D’333 Travelers ke Komodo

0
298

Bersama Lenovo Smartphone, Panorama Media menggelar lomba foto D’333 Travelers melalui Instagram untuk mencari tiga pejalan untuk menuju tiga destinasi yang sedang diprioritaskan Kementerian Pariwisata. Dengan menggandeng Agus Indrawan yang disukai pengikut Instagram-nya karena unggahan foto-foto tanah kelahirannya, Bali, diajaklah Ruli Maun sebagai salah satu pemenang kompetisi ini untuk ke Labuan Bajo.

KEPULAUAN KOMODO

Agus Indrawan atau yang akrab disapa Gust Indra, pada 3 hingga 6 Februari 2017 mengajak Ruli Maulana sebagai pemenang lomba foto D’333 Travelers ke Kepulauan Komodo. Berbeda dengan perjalanan sebelumnya ke Lombok dan Wakatobi, di mana semua peserta berangkat dari Jakarta, kedua peserta berangkat dari Bali, berhubung Gust Indra berdomisili di sana dan Ruli tinggal di Surabaya. Sesampainya di Bandara Komodo yang terbilang megah untuk ukuran Indonesia Timur, keduanya terlebih dulu diantar untuk check-in di Bintang Flores Hotel dan beristirahat sejenak.

BADAI PASTI BERLALU

Makan siang hari pertama itu, peserta diajak ke sebuah restoran di Jalan Trans Flores bernama Budi Luhur yang menyajikan menukhas Labuan Bajo, seperti Ikan Kuah Asam Philemon atau ikan segar yang diolah dalam kuah asam pedas berwarna kuning. Setelah makan, mereka menuju Air Terjun Cunca Wulang yang terletak sekitar 30 kilometer di timur Labuan Bajo. Sayangnya, di tengah jalan sebuah truk mengalami kecelakaan, sehingga Jalan Trans Flores tidak dapat dilalui. Hujan juga kemudian ikut memperparah keadaan, mobil pun akhirnya diarahkan kembali ke hotel.

Sambil menunggu hujan reda, Gust Indra dan Ruli pun saling bertukar pengalaman seputar perjalanan yang telah mereka lakukan dan ingin diwujudkan dalam waktu dekat. Selain sama-sama hobi traveling, keduanya pun sama-sama penggemar fotografi dan wisata petualangan. Ketika akhirnya cuaca membaik, keduanya menuju Bukit Sylvia di belakang Sylvia Resort Komodo di Pantai Waicicu. Untuk mendaki ke puncaknya dibutuhkan trekking ringan selama lima menit menyusuri jalan setapak. Berhubung habis diguyur hujan, jalan tanah ini licin sehingga peserta harus ekstra berhati-hati dalam melangkah. Sesampainya di puncak, walau mendung, pemandangan pesisir Labuan Bajo dari ketinggian itu tetapmenyediakan objek foto yang menawan. Justru gumpalan awan mendungnya semakin menambah efek dramatis.

Sepanjang pagi di hari kedua, Labuan Bajo terus diguyur hujan, sehingga lagi-lagi rencana hari itu harus batal. Peserta dijadwalkan ke Gua Rangko yang didalamnya terdapat kolam dengan stalaktit indah. Sebagai gantinya, ketika cuaca membaik, Gust Indra dan Ruli sepakat kembali ke Bukit Sylvia. Kali kedua ke Bukit Sylvia, mereka berhasil mendapatkan gambar yang lebih cantik, karena ketika itu cahaya matahari melimpah dengan langit biru.

Sekembali dari Bukit Sylvia, mereka mampir membeli bekal untuk dibawa ke kapal yang akan berlayar keliling Kepulauan Komodo, kemudian menuju Dermaga Kampung Ujung. Di sana sudah menanti Aqua Luna Phinisi, kapal untuk berkeliling Pulau Rinca, Padar, dan Kelor. Perjalanan dari Labuan Bajo menuju Padar ditempuh sekitar empat jam, namun belum sampai setengah perjalanan, kapal mulai goyang karena gelombang yang tinggi dan hujan yang deras.

MENDAKI PADAR

Menjelang kapal bersandar di Pulau Padar, cuaca berangsur membaik dan matahari mulai menampakkan diri dari balik awan mendung. Padar yang terletak di antara Rinca dan Komodo merupakan pulau yang paling fotogenik di kawasan ini. Bentuk pulaunya memanjang dengan titik tertinggi di ujung utara. Dari puncak bukit, barulah jelas terlihat bentuk pulau yang berkontur unik ini. Dari pantai, untuk menuju puncak bukit diperlukan trekking sekitar 30menit, dan meski hari itu tidak terlalu terik,namun baru setengah perjalanan saja peserta sudah bermandikan peluh. Dari puncak bukit, terlihat Padar yang dibingkai pantai berpasir putih dengan topografi yang bak di zaman purba. Padar sudah tidak dihuni Komodo, sehingga aman untuk trekking.

“Tidur di kapal yang bergoyang serasa ditimang-timang,” canda Ruli ketika sarapan di hari ketiga, merujuk pada kejadian di malamsebelumnya. Malam itu memang kapal kembali dihantam badai, namun beruntung cuaca kembali cerah keesokan harinya, sehingga peserta dapat trekking di Loh Liang yang berada di Pulau Rinca dengan ditemani pemandu. “Loh Liang” dalam bahasa masyarakat setempat berarti Teluk Lubang. Dinamakan demikian, karena di sini banyak ditemukan lubang yang merupakan sarang komodo. Populasi komodo di Loh Liang setidaknya sekitar 2.200 ekor, dengan yang terbesar panjangnya hingga empat meter. Rusa sebagai makanan utama reptil purba ini cukup berlimpah di sini, untuk mengantisipasi agar mereka tidak kelaparan dan tidak menyerang manusia.

Dari Rinca, perjalanan dilanjutkan menuju salah satu pantai paling terkenal di Kepulauan Komodo, yaitu Pantai Merah yang pasirnya dipenuhi pecahan karang berwarna merah. Garis pantai di sini tidak panjang, namun pasirnya menyenangkan untuk duduk-duduk, selain beberapa meter dari bibir pantai terhampar karang yang indah untuk snorkeling. Namun, sebelum snorkeling peserta memutuskan untuk mendaki bukit untuk melihat pulau-pulau sekitar dari ketinggian.

NAPAS TERTAHAN DI KELOR

Semalaman badai kembali menyapu perairan Komodo, sehingga nakhoda pun kemudian memutuskan melabuhkan kapal di Dermaga Kampung Komodo demi alasan keselamatan. Baru ketika sarapan dan cuaca mulai membaik, kapal melaju menuju Taka Makassar.

“Taka” adalah kata dalam bahasa Bugis yang berarti karang. Arus di perairan Komodo yang kuat membawa banyak nutrisi sehingga kawanan pari manta kerap terlihat mencari makan di sini. Taka Makassar juga disebut-sebut sebagai sarang pari manta karena di saat-saat tertentu, di sini dapat terlihat hingga sekitar 100 ekor.

Peserta kembali diajak trekking untuk menikmati pemandangan dari puncak Pulau Kelor. Pulau mungil ini menawarkan rute trekking yang pendek, yaitu hanya 15 menit untuk mencapai puncak, namun medannyacukup menantang karena kemiringan bukit yang mencapai 45 derajat. Tentu saja,dari atas bukit pemandangan yang tersaji membuat napas tertahan. Sayangnya, peserta tidak bisa berlama-lama di puncak Pulau Kelor, berhubung mereka harus mengejar pesawat kembali ke Bali.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here