Jalur Pendakian di Gunung Halau-halau Dibuka Kembali

Foto: Dok. Google Maps/Ahmad Royani

Kabar baik buat para pendaki di Kalimantan Selatan. Gunung Halau-halau yang ditutup selama dua tahun akibat pandemi Covid-19 akhirnya dibuka lagi untuk umum per hari ini, Selasa, 25 Januari 2022.

Wisatawan yang ingin mendaki wajib menerapkan protokol kesehatan, termasuk menunjukkan sertifikat vaksin atau hasil tes negatif swab antigen bila belum vaksin. Selain itu, pengunjung wajib membawa hand sanitizer serta mengenakan masker dan membawa masker cadangan.

Foto: Dok. Google Maps/Ari Riswanda

Di luar itu, para pendaki wajib mematuhi peraturan lain yang diberikan pengelola. Di antaranya adalah membawa perlengkapan pendakian sesuai SOP, wajib lapor sebelum dan setelah pendakian, serta membayar retribusi masuk (Rp15 ribu per orang).

Karena merupakan gunung yang dikeramatkan oleh suku Dayak, ada pula beberapa aturan lain yang perlu diketahui selama pendakian, seperti dilarang merusak dan mengambil tanaman, dilarang membuang sampah sembarangan, dilarang membawa senjata tajam dan alat musik, dilarang berteriak dan berkata kasar, serta dilarang mendaki di waktu-waktu pamali, seperti saat upacara adat.

Foto: Dok. Google Maps/Ray

Jalur Pendakian

Setinggi 1.901 mdpl, Gunung Halau-halau terletak di perbatasan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, dan Tanah Bumbu. Base camp-nya bisa diakses dengan berkendara sekitar lima jam dari pusat kota Banjarmasin.

Kalau naik mobil, kendaraan hanya bisa sampai di Desa Batu Kembar, sebelum perjalanan dilanjutkan dengan naik sepeda motor. Setibanya, pendaki biasanya menginap semalam dulu di base camp atau homestay sebelum esoknya mendaki ke puncak Gunung Halau-halau. Base camp tersebut juga menyediakan jasa pemandu dan porter bagi siapa pun yang membutuhkannya.

Foto: Instagram @datu_balambika

Durasi pendakian biasanya mencapai tiga hari dua malam, dengan dua hari mendaki untuk sampai ke puncak, sementara satu hari lagi untuk turun kembali ke base camp. Karena itu, fisik dan stamina harus benar-benar dipersiapkan sebelum mendaki.

Di awal pendakian, jalurnya kebanyakan landai dengan banyak melewati aliran sungai, selain juga melintasi jembatan gantung dan memasuki hutan yang lebat. Selanjutnya, semakin mendekati puncak, jalurnya akan semakin terjal, selain dipenuhi oleh lumut tebal. Karena itu, mesti ekstra berhati-hati saat melaluinya.

Foto: Dok. Google Maps/Sarwanayuda 29

Sesampainya di puncak, kamu akan disajikan pemandangan alam yang menawan dengan hamparan perbukitan hijau. Bila datang di saat yang tepat, kamu bisa melihat lautan awan yang indah yang membubung di sekitarnya. Sementara di malam hari, kamu bisa melihat kelap-kelip lampu kota maupun bintang-bintang yang bertaburan di langit.

Teks: Melinda Yuliani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here