Mengenal Wayang Potehi, Seni Pertunjukan Asal Cina

Dari sekian banyak jenis wayang yang ada di Indonesia, salah satunya yang populer adalah wayang potehi. Sudah ada sejak ribuan tahun lalu, tepatnya pada masa Dinasti Jin, wayang potehi masuk ke Indonesia sekitar abad 16 hingga 19, dibawa oleh etnis Tionghoa yang merantau ke berbagai wilayah di nusantara.

Berasal dari kata “pou” yang berarti “kain”, “te” yang berarti “kantong”, dan “hi” yang berarti “wayang”, secara harfiah wayang ini berupa kantong dari kain. Sementara bagian kepala, tangan, maupun kakinya terbuat dari kayu, dengan yang biasa dipakai adalah kayu waru.

Bentuknya mirip wayang golek, namun pakaiannya menggunakan pakaian tradisional Cina. Lakon-lakon yang biasa dibawakan pun diambil dari kisah klasik Tiongkok maupun kisah populer, seperti “Kisah Tiga Negara” (“Samkok”), “Kera Sakti”, “Sampek Engtay”, dan “Pendekar Gunung Liang San”.

Tak seperti wayang kulit, pertunjukan ini biasanya hanya berdurasi singkat, sekitar 1,5 sampai 2 jam saja. Dibawakan secara berseri, pementasannya bisa sampai beberapa kali hingga selesai. Bahkan ada kisah yang membutuhkan pementasan sampai tiga bulan.

Panggung pementasannya sendiri unik, berwarna merah dengan miniatur rumah yang dibuat secara permanen ataupun bongkar pasang. Di baliknya, ada dalang dan asistennya yang memainkan wayang potehi. Selagi dayang menyampaikan cerita, sang asisten akan membantu menyiapkan dan menata peralatan pentas, seperti busana dan senjata, selain menampilkan tokoh-tokoh sesuai cerita.

Saat awal masuknya di Indonesia, wayang potehi disampaikan dalam dialek Hokkien. Seiring waktu, wayang ini pun turut dimainkan dalam bahasa Indonesia karena banyak dalang tak lagi mampu menguasai bahasa Hokkien. Namun karena itu jugalah masyarakat non-Tionghoa dapat ikut menikmatinya.

Selain bahasa yang mengadopsi budaya lokal, penggunaan alat musiknya pun tak cuma berupa gembreng, suling, kecer, dan lainnya, namun juga memakai alat musik Jawa, seperti gong, kendang, dan bonang. Lagu-lagu Jawa pun kerap mengisi pementasan sebagai selingan, namun tetap dengan iringan musik Cina.

Wayang potehi biasanya selalu hadir untuk memeriahkan Tahun Baru Imlek. Di Semarang, misalnya, warga setempat biasanya menonton pertunjukan wayang potehi di arena Pasar Semawis. Pementasan wayang potehi juga kerap dilakukan di sejumlah kelenteng ataupun mal di kota-kota besar, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kamu juga bisa menontonnya secara virtual, seperti di channel YouTube TMII Official.

Teks: Melinda Yuliani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here