Menjelajah Pulau Ndana, Secuil Surga di Selatan Indonesia

0
3147

Pulau Ndana merupakan salah satu dari total 96 pulau di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Terletak paling selatan, salah satu pulau terluar di Indonesia ini dapat ditempuh dengan menyewa kapal nelayan atau speedboat milik TNI selama 30 menit dari Pantai Oeseli di Pulau Rote.

Oeseli sendiri terletak sekitar satu jam dari kota Baa, atau setengah jam dari desa Nemberala. Di Desa Oeseli terdapat pos TNI untuk meminta izin sebelum berkunjung ke Pulau Ndana, karena memang diwajibkan melapor terlebih dahulu untuk memberitahukan data diri dan maksud kedatangan.

Foto: Instagram @wageadit

Pulau tak berpenghuni ini berfungsi sebagai cagar alam dan tempat TNI menjaga perbatasan. Karena minim manusia, ekosistem di sini masih sangat terjaga.

Wisatawan yang menuju pulau ini biasanya karena penasaran ingin melihat Danau Merah yang sesuai namanya memang airnya berwarna kemerahan. Terletak di tengah hutan, legenda mengatakan bahwa air danau ini berwarna merah karena seusai perang antara kerajaan kuno di Rote, di sinilah para prajurit membersihkan senjata mereka yang bersimbah darah.

Foto: Instagram @wanti_elviany

Di Rote memang pernah ada banyak kerajaan dan kerap terjadi perang antarkerajaan. Namun secara ilmiah, fenomena itu terjadi karena meningkatnya kadar garam dalam air, kenaikan temperatur udara, dan minimnya curah hujan. Alga yang tumbuh di dasar danau menghasilkan pigmen merah sebagai bagian dari proses fotosintesis dan respons atas kadar garam yang sangat tinggi karena kurangnya curah hujan.

Foto: Instagram @aliviaalfiarty

Untuk menuju Danau Merah diperlukan trekking selama satu jam dengan medan yang cukup sulit, terlebih bila dilakukan ketika matahari sudah tinggi, berhubung pulau ini tandus dan sepanjang jalan hanyalah ada rumput berduri dan batu karang. Selepas menjelajah Danau Merah, wisatawan juga dapat melihat patung Panglima Besar Jenderal Sudirman yang ikonis, atau menuju mercusuar untuk menikmati panorama pulau dan perairan di sekitarnya dari ketinggian.

Teks: Melinda Yuliani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here