Lukisan Wayang Kamasan, Berawal dari Obsesi

0
933

Cikal bakal seni lukis di Bali bermula di sebuah desa bernama Kamasan di Kabupaten Klungkung. Pada abad ke-14 sampai abad ke-18, Bali berada di bawah kekuasaan raja-raja keturunan Sri Krisna Kepakisan dari Kerajaan Majapahit. Adalah salah satu raja Kepakisan, yaitu Sri Waturenggong, yang pada suatu hari di abad 15 dihadiahi sekotak wayang oleh Kerajaan Majapahit.

Karena terpukau dengan keindahan wayang-wayang tersebut, sang raja kemudian memerintahkan para pelukis istana melukisnya secara massal untuk disebarluaskan ke seluruh Bali agar masyarakat pun dapat ikut mengagumi keindahan wayang-wayang tersebut. Saking terobsesinya dengan lukisan wayang Kamasan, langit-langit Gedung Kertha Gosa yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Gelgel di Klungkung pun diperintahkan untuk digambari mural wayang Kamasan dengan kisah-kisah legendaris, seperti perjalanan Bhima ke Swarga Loka atau kisah Ni Diah Tantri yang diambil dari Wayang Tantri, wayang tradisional Bali.

Proses Panjang

Lukisan gaya Kamasan menggunakan pewarna alami, seperti cokelat muda dari batu gamping, hitam dari jelaga lampu minyak, dan putih dari tulang babi atau tanduk rusa yang dihancurkan menjadi bubuk. Sementara bahan kanvas yang digunakan adalah kain kasar. Kain ini kemudian dicelup dalam bubuk bubur beras dan dijemur di bawah sinar matahari guna menutup dan meratakan permukaannya. Setelah kering, permukaannya digosok agar lebih halus, barulah dapat dimulai proses melukis dengan membagi seluruh kanvas menjadi beberapa bidang untuk menempatkan setiap gambar wayang dan unsur lainnya. Karena memiliki cerita yang jelas, lukisan ini pun terlihat unik dan indah.

Gaya Kamasan mengalami masa keemasan pada abad ke-16 di bawah pemerintahan Kerajaan Gelgel. Ketika itu cerita yang banyak dilukis diambil dari epik Ramayana dan Mahabharata, dengan membuat tak ada bagian kanvas yang kosong. Seringkali lukisan pun bisa mencapai panjang beberapa meter karena pelukisnya secara detail menggambarkan alur cerita dengan tokoh yang berbeda-beda, sehingga melihat lukisan Kamasan dari zaman itu bagai membaca komik.

Perkembangan Kamasan

Karena lukisan wayang Kamasan tersebar di seluruh Bali, gaya lukisan ini pun kemudian dimodifikasi oleh seniman setempat. Di Tabanan, lukisan ini hadir lebih panjang dengan ornamen pakaian yang dibuat lebih megah dibandingkan yang dihasilkan di daerah lain di Bali.

Perlahan, gaya Kamasan pun mengalami perkembangan dari segi material hingga teknik pengerjaan, selain kisah-kisah yang ditampilkan pada lukisan pun tidak lagi religius, namun juga lebih membumi dengan kerap mengangkat masalah-masalah sosial. Pada lukisan Kamasan karya Ketut Gde pada abad 18, misalnya, menampilkan wajah-wajah orang asing. Di Kabupaten Buleleng, muncul gaya Naga Sepaha (nama sebuah desa di Singaraja), di mana lukisan wayang dibuat di atas bidang kaca, tak lagi pada kanvas. Pada gaya ini, ukuran tokoh-tokoh raksasa dibuat lebih besar dibandingkan tokoh-tokoh dewa-dewi. Hal ini berbeda dengan gaya lukisan wayang di selatan Bali yang proporsi ukuran tokoh raksasanya sama besar dengan tokoh dewa-dewi.

Pada abad 18 dan 19, karya wayang yang berkembang di wilayah Gianyar, seperti Ubud, Batuan, serta wilayah sekitarnya mengalami perubahan warna menjadi monokrom, yaitu sepia dan hitam-putih. Teks huruf Bali yang berisi kata-kata petuah serta identitas tokoh-tokohnya pun berangsur menghilang, walau di beberapa karya masih nampak. Meski begitu, dimensi dekoratif Kamasan bertahan dengan bentuk-bentuk yang lebih berkembang. Hal tersebut menurut kemungkinan diakibatkan pecahnya kerajaan di Bali menjadi kerajaan kecil-kecil setelah pemberontakan Agung Maruti yang berhasil menumbangkan Kerajaan Gelgel.

Baliseering dan Efeknya

Memasuki awal abad 19, peperangan terjadi antara raja-raja Bali dengan Belanda melalui perang puputan Badung pada 1906, perang puputan Klungkung pada 1908, serta sederetan peperangan di Buleleng, Karangasem, dan masih banyak lagi. Perang membuat kerajaan-karajaan Bali tersebut hancur dan istana-istana terbakar, sehingga Belanda mengalami hujatan dari dunia internasional.

Untuk meredam kecaman internasional, Belanda kemudian menerapkan kebijakan politik untuk mengembalikan kemurnian Bali dalam program yang disebut Baliseering. Program ini kemudian melahirkan banyak dokumenter tentang Bali dan memboyong karya-karya seni lukis Bali ke museum di luar negeri, sehingga banyak wisatawan pun tertarik berkunjung ke Bali.

Baliseering ini juga berdampak pada kedatangan pelukis Walter Spies pada 1927 dan Rudolf Bonnet pada 1929 yang kemudian bekerja sama dengan pelukis setempat sehingga terlahirlah gaya khas lukisan Bali seperti yang sekarang ini. Kedua pelukis tersebut terinspirasi untuk berkunjung ke Bali setelah melihat lukisan wayang Kamasan yang dikoleksi oleh Universitas Leiden.

Pita Maha

Dari interaksi antara seniman asing dan lokal di Bali itulah kemudian lahir sebuah kelompok bernama Pita Maha (pita berarti kreativitas dan maha berarti agung) pada 1936 yang dibidani Tjokorda Agung Sukawati (raja Ubud), Rudolf Bonnet, Walter Spies, I Gusti Nyoman Lempad, dan sederet pelukis lain. Dengan adanya organisasi ini, terdapat kontrol terhadap mutu karya dan program pameran yang diadakan.

Pita Maha pun berperan dalam memperkenalkan seni lukis Bali ke luar daerah dan bahkan ke mancanegara, salah satunya dalam sebuah pameran kelas dunia di Paris. Pita Maha pun kemudian melahirkan dua gaya lukisan, gaitu gaya Ubud dan gaya Batuan, di mana gaya Ubud cenderung menampilkan unsur fotografis, sedangkan gaya Batuan memadukan teknik Barat dengan seni lukis Kamasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here