Home News Kontroversi Kereta Gantung di Kilimanjaro

Kontroversi Kereta Gantung di Kilimanjaro

0
136

Tanzania berniat membangun layanan kereta gantung di Gunung Kilimanjaro untuk meningkatkan minat wisawatan berkunjung ke salah satu gunung tertinggi di dunia ini, yang ironisnya tidak banyak yang tahu berada di Tanzania. Dengan begitu, wisatawan tak perlu mendaki, namun dapat cukup menaiki kereta gantung. Niatan ini juga kemudian memunculkan kontroversi karena kemungkinan sebagian pemandu dan porter yang akan kehilangan pekerjaan.

Penuh Kontroversi

Setidaknya 50.000 wisatawan mendaki Kilimanjaro setiap tahunnya dan mendatangkan jutaan dolar devisa bagi Tanzania. Pemerintah Tanzania percaya bahwa kereta gantung akan mendatangkan 50 persen turis lebih banyak ke gunung tertinggi di Afrika itu karena Kilimanjaro juga kemudian dapat dinikmati orang-orang cacat, manula, dan bahkan anak-anak. Rute kereta gantung ini akan dibuat di sepanjang Machame Route yang merupakan rute favorit pendaki karena keindahan pemandangan yang ditawarkan.

Jennifer Francis dari Kili Meru Mountain Guides Society mengatakan, “Pemerintah Tanzania harus memperjelas rencana pembangunan kereta gantung ini. Jangan hanya hal-hal yang positif saja, namun juga harus memaparkan dampak negatif yang akan muncul di masa depan akibat beroperasinya kereta gantung ini. Kalau dampak negatif tersebut telah diakui akan muncul, mereka bisa sekaligus mencari solusi untuk mengatasinya.”

Sedangkan Sintia Mwita, seorang porter beranak tiga, menyatakan kekhawatirannya bahwa tenaganya tak lagi dibutuhkan untuk membawa barang-barang para pendaki. “Saya yang membiayai sekolah anak-anak dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari dan tak terbayang rasanya bila harus kehilangan pekerjaan,” ujarnya.

Wakil Menteri Sumber Daya Alam dan Pariwisata Constantine Kanyasu mengakui bahwa proyek yang akan mendatangkan banyak keuntungan devisi ini akan tidak mudah diterima. “Perubahan apa pun pasti akan ada dampaknya. Kita tidak bisa mengharapkan Tanzania akan terus sama lagi, diperlukan perubahan di sana-sini agar negara ini terus maju.”

Dampak Buruk

Proyek semacam ini bukan pertama kalinya tercetus karena hal yang sama sedang dibangun di Afrika Selatan, Italia, Swedia, dan Himalaya. Studi kelayakan saat ini sedang diadakan, berikut rencana bisnis, sumber investasi, dan target profit yang diharapkan. Dua perusahaan besar dari Cina dan salah satu negara Barat dikabarkan telah menunjukkan ketertarikannya akan proyek ini. Uji lingkungan dan sosial diselenggarakan oleh Crescent Environment and Management Consult Limited, dengan tujuan meminimalkan efek buruk pada lingkungan dan masyarakat, yang bila ternyata memungkinkan, proyek ini akan dilanjutkan.

Untuk mendaki Kilimanjaro, setiap pendaki harus mengantongi izin yang dapat diperoleh dengan membayar 1.000 dolar AS per orang kepada Taman Nasional Kilimanjaro. Dengan izin tersebut, barulah operator bersertifikat dapat memberikan layanan untuk memandu mereka hingga ke puncak. Dibandingkan dengan trekking di Machu Picchu, Peru yang kuotanya dibatasi, jumlah pendaki di Kilimanjaro tidak dibatasi. Yang dibatasi hanyalah aktivitas yang dapat dilakukan para operator dan pendaki. Untuk mendapatkan izin operasi, operator tur yang beroperasi di Kilimanjaro harus mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit. Itulah sebabnya untuk mendaki Kilimanjaro seseorang harus mengeluarkan biaya yang cukup mahal karena operator tur menjual paket di kisaran harga 2.000 hingga 4.000 dolar AS per orang.

Dengan kehadiran kereta gantung, guide dan porter menyakini akan banyak mengurangi jumlah pendaki yang berujung pada hilangnya sumber mata pencaharian mereka. Setidaknya 250.000 orang menggantungkan pendapatannya pada aktivitas pendakian di Kilimanjaro. Kereta gantung juga dikhawatirkan justru akan mengurangi keistimewaan Kilimanjaro sebagai sebuah destinasi. Karena kemudahan yang ditawarkan, dapat berada di puncak gunung tertinggi di Afrika itu akan tidak sama lagi dibandingkan bila ditempuh dengan susah payah – bahkan harus latihan fisik berbulan-bulan dulu sebelumnya – di mana hal ini seharusnya merupakan kesempatan sekali seumur hidup yang ditunggu-tunggu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

KEEP ME UPDATE