Mawali Wreck merupakan salah satu lokasi penyelaman bangkai kapal paling terkenal di Selat Lembeh, Sulawesi Utara. Kapal kargo Jepang dari era Perang Dunia II ini tenggelam pada tahun 1943 dan kini menjadi rumah bagi beragam biota laut.
Terletak di kedalaman sekitar 15 hingga 30 meter, kapal ini berada dalam posisi miring di sisi kiri (port side), dengan baling-balingnya yang masih utuh. Dengan panjang sekitar 70 hingga 90 meter, bangkai kapal ini telah sepenuhnya tertutup terumbu karang yang subur, menjadikannya destinasi favorit bagi penyelam yang ingin menggabungkan eksplorasi sejarah dengan keindahan bawah laut.

Biota Laut
Daya tarik utama Mawali Wreck tidak hanya terletak pada nilai historisnya, tetapi juga pada keanekaragaman hayati yang menghuni setiap sudutnya. Berbagai jenis karang keras dan lunak, sea fan, serta anemon berkembang pesat di permukaan kapal, menciptakan ekosistem yang menarik bagi berbagai spesies laut. Di antara celah-celah bangkai kapal, penyelam dapat menemukan kuda laut Pygmy, nudibranch berwarna-warni, mantis shrimp, dan ghost pipefish. Selain itu, kawanan batfish, barakuda, dan trevally sering kali berkumpul di sekitar struktur kapal yang kokoh.
Bagi penggemar fotografi bawah laut, Mawali Wreck menawarkan banyak spot menarik. Bagian dek dan bangunan kapal yang runtuh menjadi latar sempurna untuk menangkap kehidupan laut yang dinamis. Baling-baling kapal di bagian buritan, dengan panjang setiap bilah sekitar 1,5 meter, menjadi salah satu titik favorit untuk diabadikan. Pada area yang lebih dalam, penyelam yang memiliki sertifikasi wreck diving dapat memasuki beberapa ruang dalam kapal untuk eksplorasi lebih lanjut, meskipun kehati-hatian sangat dianjurkan mengingat kondisi interior yang tidak stabil.


Arus bawah di lokasi ini bisa cukup kuat pada waktu-waktu tertentu, sehingga penyelaman sebaiknya dilakukan saat slack tide, yaitu saat jeda pergantian pasang surut. Jarak pandang di sekitar bangkai kapal berkisar antara 8 hingga 10 meter, tergantung kondisi cuaca dan arus. Karena kedalamannya yang cukup signifikan, penyelaman di Mawali Wreck lebih disarankan bagi penyelam bersertifikasi lanjutan (Advanced Open Water) atau mereka yang menggunakan Nitrox untuk memperpanjang waktu menyelam tanpa dekompresi.
Meski memiliki nilai historis yang tinggi, Mawali Wreck masih menyimpan banyak misteri. Nama asli kapal ini tidak diketahui, dan tidak ada catatan resmi yang menjelaskan secara pasti bagaimana ia tenggelam. Namun, menurut cerita masyarakat setempat, kapal ini sengaja ditenggelamkan oleh tentara Jepang agar tidak jatuh ke tangan sekutu. Berlokasi dekat Kampung Mawali di Bitung, bangkai kapal ini akhirnya diberi nama sesuai dengan desa terdekat.

Sebagai bagian dari upaya konservasi maritim, Mawali Wreck termasuk dalam daftar situs kapal karam yang dikembangkan menjadi destinasi wisata menyelam oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia. Langkah ini bertujuan untuk melestarikan warisan sejarah bawah laut serta mendukung ekowisata di kawasan Lembeh. Dengan semakin meningkatnya popularitas wisata kapal karam, situs ini menawarkan pengalaman unik bagi penyelam yang ingin melihat langsung peninggalan masa perang yang kini berubah menjadi surga kehidupan laut.
Waktu terbaik untuk menyelam di Mawali Wreck adalah antara Juli hingga Oktober, saat musim kemarau dan kondisi laut lebih stabil. Suhu air rata-rata berkisar antara 27 hingga 29 derajat Celsius, sementara suhu udara bisa mencapai 30 hingga 35 derajat Celsius. Selain Mawali Wreck, Selat Lembeh juga memiliki berbagai lokasi penyelaman menarik lainnya, termasuk dinding karang, puncak bawah laut, serta area mangrove yang kaya akan biota unik.