Bertandang ke Desa Sukarara, Sentra Penghasil Tenun di Lombok

Berbicara desa wisata di Lombok, biasanya yang terlintas pertama adalah Desa Sade yang terletak di Kecamatan Pujut. Namun, selain Desa Sade, ada satu desa lain yang tak kalah menarik kamu kunjungi. Namanya Desa Sukarara.

Lokasi desa ini di Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. Letaknya tak jauh dari jalan raya, selain mudah diakses dari Bandara Internasional Lombok Zainuddin Abdul Madjid dengan sekitar 15-20 menit berkendara. Jadi, kamu bisa ke desa ini dalam perjalanan ke destinasi lainnya di Lombok, atau sepulangnya menjelajah pulau tersebut untuk berburu oleh-oleh.

Desa ini merupakan salah satu desa penghasil tenun yang terkenal di Lombok. Saking terkenalnya, kain tenunnya bahkan sudah tembus ke pasar internasional. Karena itu, bila ingin berbelanja kain tenun khas Lombok, salah satu tempat terbaiknya adalah di Desa Sukarara.

Sama halnya dengan kunjungan ke Desa Sade, kamu akan disambut dengan suasana perkampungan yang masih autentik, lengkap dengan deretan rumah tradisional (atau bale dalam bahasa Sasak). Kamu bisa meminta warga desa yang ramah untuk menjadi pemandu dan mengantarkan berkeliling kampung sembari mendengarkan cerita seputar budaya khas suku Sasak.

Tentu saja kunjungan ke sini tak akan lengkap tanpa melihat kepiawaian warganya dalam menenun. Bagi gadis Desa Sukarara, menenun merupakan salah satu syarat wajib untuk menikah. Tak heran kalau sedari belia, mereka sudah pandai menenun.

Tentu saja menenun bukan pekerjaan mudah. Dipintal manual dari kapas, proses menenun ini membutuhkan waktu yang lama. Persiapannya saja bisa setidaknya satu minggu untuk mengikat benang demi mendapatkan motif yang diinginkan. Sementara proses pengerjaannya bisa dari satu hingga lima bulan.

Ketimbang desa-desa lainnya di Lombok, hasil tenun di Desa Sukarara ini terkenal sangat halus, sehingga memiliki keunikannya tersendiri. Warnanya pun tak mudah luntur karena menggunakan pewarna alami dari kulit kayu mahoni, daun sirih, kunyit, dan biji buah asam. Sementara motifnya bermacam-macam, mulai dari motif keker, serat penginang, cungklik, dan masih banyak lagi.

Namun seluruh pengerjaannya sama, yakni dengan tangan dan tanpa bantuan mesin. Harganya beragam, dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung bahan, motif, dan tingkat kesulitan pembuatannya. Biasanya hasil kain tenun yang sudah selesai akan digantung berjejer di satu tempat, sehingga calon pembeli bisa melihat langsung keindahannya.

Selain belajar lebih lanjut soal tenun dan budaya suku Sasak, serta berburu oleh-oleh berupa kain tenun dan kerajinan tangan lainnya, kamu juga bisa berfoto dengan pakaian adat khas Lombok di Desa Sukarara. Pakaian tersebut disewakan, lengkap dengan latar berupa replika rumah adatnya.

Teks: Melinda Yuliani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here