Mau Jelajah Dataran Tinggi Dieng? Kunjungi Museum Kailasa Dulu

0
4533

Dataran tinggi Dieng yang terletak di ketinggian 2.000 mdpl ini tak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, namun juga kompleks candinya yang bersejarah. Biasanya, wisatawan langsung mengunjungi Candi Arjuna dan empat candi lain di kompleks tersebut untuk mengagumi arsitekturnya yang megah maupun memotret pemandangannya saat matahari terbit.

Namun, untuk mengetahui lebih dalam tentang terbentuknya dataran tinggi Dieng maupun melihat berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan masyarakat setempat, ada baiknya kamu berkunjung ke Museum Kailasa. Terlebih arca-arca yang ada di kompeks candi sebagian besar disimpan di museum ini, termasuk arca Ganesha yang ditemukan Desember 2019 lalu di kebun kentang milik warga. Konon arca tersebut merupakan temuan arca terbesar di kawasan Dieng sepanjang sejarah.

Foto: Dok. Google Maps/Erwin Baharuddin

Terletak di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, museum ini dapat diakses dengan mudah. Kalau berangkat dari arah Wonosobo, kamu akan melewati Kompleks Candi Arjuna sebelum tiba di Museum Kailasa. Jangan khawatir kelewatan, karena lokasinya persis di pinggir jalan, atau tepat di seberang Candi Gatotkaca. Di depan museum juga terdapat area parkir – jadi bila membawa kendaraan, kamu tak perlu berjalan kaki jauh, dan bisa langsung memarkirkan motor atau mobil.

Menempati lahan seluas 560 meter persegi, museum ini terbagi menjadi beberapa bangunan. Bangunan utamanya yang terletak di bagian depan digunakan untuk menyimpan berbagai peninggalan candi di dataran tinggi Dieng, dari arca, lingga dan yoni, kemuncak (atap candi), hingga nandi (makhluk bertubuh singa dan berkepala sapi tunggangan Dewa Siwa dan Dewi Durga). Seluruh objek bersejarah ini sengaja disimpan di museum demi alasan keamanan.

Foto: Dok. Google Maps/Kunto Widiarto

Dari sini, kamu dapat mengunjungi bangunan selanjutnya yang menampilkan proses terbentuknya dataran tinggi Dieng setelah letusan Gunung Prau Tua, sekaligus mengetahui sumber batu andesit yang digunakan untuk membuat candi. Tak hanya itu, kamu juga diajak mengenal kebudayaan setempat, dari sistem kepercayaan, upacara pemotongan rambut anak gimbal, hingga tatanan hidup masyarakatnya.

Terakhir, kamu dapat mengunjungi teater mini yang menyuguhkan film dokumenter tentang keseharian masyarakat Dieng. Ruangannya tak terlalu luas, sehingga kamu mesti mengantre untuk bisa menikmati film ini.

Foto: Dok. Google Maps/Gilang Primada

Puas mengitari museum, kamu dapat menuju bagian atas museum yang disulap sebagai tempat nongkrong dengan gazebo-gazebo kecil untuk bersantai dan beristirahat sembari menikmati udara dingin dan pemandangan dataran tinggi Dieng. Di sini jugalah salah satu spot terbaik untuk menyaksikan keindahan panorama menjelang matahari terbit, ketika kabut yang menyelimuti kawasan tersebut perlahan-lahan terangkat dan menyingkap keindahan kompleks candi maupun hamparan rerumputan hijau dan pepohonan di sekitarnya.

Mengunjungi museum yang buka sedari pukul 04:30 hingga 16:00 ini, kamu cukup membayar Rp5.000 per orang. Kalau ingin sekalian menonton film dokumenter, cukup tambah Rp5.000 lagi per orang. Harga tersebut terbilang terjangkau, terlebih museum tersebut dilengkapi fasilitas yang cukup lengkap, termasuk musala, toilet, dan kantin. Selama kunjungan, pastikan untuk selalu mematuhi protokol kesehatan yang berlaku, termasuk mengenakan masker, menjaga kebersihan tangan, dan menghindari kerumunan.

Teks: Melinda Yuliani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here