Selain Bertemu Panda, Bisa Lakukan Apa Saja di Chengdu?

0
3442

Giant Panda Research Base barangkali menjadi alasan bagi banyak orang untuk berkunjung ke Chengdu. Taksi-taksi di kota ini pun banyak yang menempelkan stiker panda ke kap mobil mereka.

Sementara penyuka film bakal mengingat kota ini dari film animasi “Kung Fu Panda” (2008) yang banyak menonjolkan ciri khas Chengdu, mulai dari aspek kuliner (dandanmian dan mapo doufu) hingga atraksi wisata, seperti jalan-jalan sempit dan arsitektur kuno di Kuanzhai Xiangzi (Wide and Narrow Alleys).

Namun Chengdu tak hanya panda. Dibangun lebih dari 2.000 tahun lalu, ibu kota Provinsi Sichuan di barat daya Tiongkok ini menawarkan suasana kuno sekaligus modern, sehingga berjalan-jalan di sini bagai berkendara naik mesin waktu untuk dimanjakan dengan kontras zaman yang menawan.

Berada di sini, jangan lewatkan kunjungan ke tempat-tempat berikut ini.

Du Fu’s Thatched Cottage

Tempat ini merupakan bekas rumah Du Fu, seorang penyair terkenal di masa Dinasti Tang (618-907). Cottage ini sempat terlantar selama ratusan tahun hingga masa Dinasti Song Utara (960-1127), yang kemudian membangun wihara di tempat tersebut untuk mengenang sang penyair. Tempat ini kemudian diperluas dan sempat direnovasi beberapa kali, dengan ditambahkan taman, danau, paviliun, dan museum.

Setiap musim semi, pohon-pohon sakura akan bermekaran di sini, sementara di musim panas giliran teratai yang akan bermekaran dan di musim gugur adalah saat untuk menikmati hamparan bunga krisan. Di musim dingin, tempat ini akan dipenuhi aneka anggrek.

Akses: Naik bus nomor 19, 35, 58, 82, 151, 165, 170, 1024, 1031, 1134, g59, atau g74 dan turun di Dufu Caotang (Du Fu’s Thatched Cottage) Station. Bisa juga naik Metro Line 4 ke North Caotang Road Station lalu jalan kaki 15 menit.

Kuanzhai Xiangzi (Wide and Narrow Alleys)

Dalam bahasa Inggris, kawasan ini disebut Wide and Narrow Alleys. Merupakan salah satu distrik bersejarah di Chengdu yang terdiri tiga gang, yakni Wide Alley (Kuan Xiangzi), Narrow Alley (Zhai Xiangzi), dan Well Alley (Jing Xiangzi).

Wide Alley disesaki bangunan kuno yang kini beralih fungsi menjadi hotel butik, restoran, kedai teh tradisional, dan penginapan unik yang menawarkan suasana Chengdu tempo dulu. Di sini juga terdapat museum bernama Chengdu Real-Life Experience Hall yang menampilkan dokumentasi keseharian warga yang menghuni tempat ini pada era 1912 hingga 1949. Di malam hari, pengunjung dapat mengudap jajanan khas setempat atau mencicipi barbekyu di bawah pohon, sembari menyaksikan pertunjukan wayang dan boneka, atau menonton demonstrasi kaligrafi Tiongkok.

Narrow Alley, sesuai namanya, merupakan gang-gang sempit yang menawarkan suasana internasional berkat kehadiran restoran khas Jerman, Jepang, Amerika, Prancis, dan India, selain deretan toko dan kedai kopi.

Sementara penikmat kehidupan malam dapat berkunjung ke Well Alley yang memiliki banyak pilihan pub dan klub terbaik di Chengdu.

Akses: Naik bus nomor 51, 62, 70, 93, 126, 127, 163, atau 340 dan turun di Wide and Narrow Alley Station, atau naik Metro Line 4 dan turun di Wide and Narrow Alley Station.

Wuhou Temple

Dikenal juga sebagai Memorial Temple of Marquis Wu, salah satu kuil tertua di Chengdu ini dedikasikan untuk Zhuge Liang, seorang ahli strategi militer terkenal dari era Samkok (atau yang dikenal dengan julukan Three Kingdoms) yang kemudian menjabat sebagai perdana menteri Shu Han (221-263).

Dibangun kembali pada 1672, kompleks candi yang luas ini memiliki banyak fitur menarik, termasuk aula utama yang memajang patung tanah liat Zhuge Liang. Di samping kuil tersebut terdapat sebuah kuil yang didedikasikan bagi Liu Bei, penguasa Kekaisaran Shu Han yang kuburannya berada tak jauh dari situ.

Fitur penting lainnya adalah 28 patung terakota replika para menteri, jenderal, dan pejabat tinggi negara bagian Shu Han, serta sejumlah tablet batu yang menampilkan puisi dan tulisan dari periode Samkok.

Akses: Naik bus nomor 1, 57, 82, 334, 335, atau 1126 dan turun di Wuhouci (Wuhou Temple) Station, atau naik Metro Line 3 dan turun di Gaoshengqiao Station.

Jinli Street

Jinli Street merupakan bekas jalanan komersial semasa Kerajaan Shu (221-263). Pada 2004, jalan sepanjang sekitar 550 meter ini direvitalisasi dengan tetap mempertahankan arsitektur khas Provinsi Sichuan semasa Dinasti Qing.

Itulah sebabnya bila berjalan-jalan di sini, mata akan dimanjakan dengan rumah-rumah tradisional yang dialihfungsikan sebagai restoran dan toko suvenir, selain terdapat panggung untuk menampilkan pertunjukan wayang dan opera tradisional. Semua bangunan dibuat semirip aslinya, termasuk penjaga toko, pelayan, hingga petugas kebersihan yang diwajibkan mengenakan pakaian tradisional.

Jinli Street juga menjadi pilihan utama bagi para wisatawan untuk berwisata kuliner karena tempat ini menyediakan deretan kios yang menjajakan makanan khas Sichuan, seperti ayam atau burung dara goreng yang ditaburi cabai kering, tahu goreng dengan saus pedas, serta san da pao atau kudapan dari ketan, gula merah, wijen, dan kacang. Untuk sekadar berburu foto pun tempat ini menyediakan banyak objek menarik, terutama di malam hari ketika jalan diterangi lentera-lentera khas Tiongkok.

Akses: Naik bus nomor 1, 57, 82, 334, 335, atau 1126, dan turun di Wu Hou Ci (Wuhou Temple) Station.

Teks: Melinda Yuliani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here