Pro Kontra Berkunjung ke Desa Wanita Berleher Panjang di Chiang Mai

0
3031

Chiang Mai merupakan melting pot bagi suku pegunungan yang memiliki budaya unik. Karena itu, salah satu daya tarik berkunjung ke kota terbesar di Thailand Utara ini adalah tur mengunjungi sejumlah pemukiman suku yang ada di kawasan ini.

Sebut saja pemukiman suku Akha dengan pakaian adatnya yang kaya warna sebagai yang paling populer, atau suku Hmong yang paling agresif dan independen, sehingga banyak warganya yang mengembara ke tempat-tempat baru. Anda tentu tak asing juga dengan suku Kayan yang warganya merupakan para penenun handal.

Ya, wanita suku Kayan memang paling sering difoto karena memiliki leher panjang. Bagi mereka, leher panjang adalah simbol kecantikan. Karena itu, sejak usia belia mereka telah melilitkan kalung dari kuningan pada leher, yang kemudian terus ditambahkan tiap tahunnya hingga mencapai belasan jumlahnya.

Baca juga: Ada Apa di Chiang Mai?

Suku Kayan sendiri berasal dari Myanmar dan mengungsi ke Thailand pada pertengahan hingga akhir 1900-an karena situasi politik di Myanmar yang memanas. Meski demikian, di pengungsian, banyak wanita Karen tidak mengenakan kalung kuningan, walau secara tradisi, pemakaian kalung ini dimulai sejak usia lima atau enam tahun.

Banyak aktivitis kemanusiaan kemudian mengkritik tur ke desa-desa suku Kayan karena menonton manusia seperti menonton binatang di kebun binatang merupakan sebuah aksi eksploitasi, di mana salah satunya terlihat dari semakin mudanya usia anak perempuan yang mengenakan kalung kuningan untuk keperluan pariwisata.

Berikut pro dan kontra untuk dipertimbangkan sebelum berkunjung ke desa suku Kayan di Chiang Mai.

Pro:

  • Desa-desa wisata memang rekayasa, namun di sini pulalah para wanita suku Kayan tinggal.
  • Para wanita suku Kayan mendapatkan penghasilan yang lumayan dari pariwisata, di mana jumlahnya lebih signifikan dibanding bila berkerja di ladang.
  • Karena merupakan imigran yang ilegal, demi perlindungan, mereka tidak akan dipulangkan ke Myanmar.
  • Para wanita suku Kayan menjual suvenir dan kerajinan unik dengan harga terjangkau.
  • Berkunjung ke desa-desa suku minoritas ini akan dapat membawa pulang kenangan tak terlupakan dan foto-foto perjalanan yang unik.

Kontra:

  • Semua desa wisata suku Kayan tidak dikelola suku Kayan sendiri dan banyak terdengar kabar pengelola memperlakukan warga desa dengan tidak baik.
  • Beberapa wanita suku Kayan berada di Thailand secara ilegal (tidak mendapatkan status suaka) sehingga rentan untuk dieksploitasi.
  • Banyak laporan yang menyatakan bahwa anak-anak suku Kayan diminta mengenakan kalung kuningan sejak usia sangat dini demi menarik turis.
  • Karena terlalu sering difoto, wajah wanita suku Kayan sering tampak malas-malasan.
  • Jangan berekspektasi melihat desa tradisional karena semua desa Suku Leher Panjang adalah rekayasa.

Desa Suku Leher Panjang ini sendiri ada beberapa di Thailand, termasuk Baan Tong Luang (Chiang Mai), Baan Huay Pu Keng (Mae Hong Son), dan Baan Huay Ser Tao (Mae Hong Son). Masing-masing desa tersebut di Thailand memiliki tampilan dan nuansanya sendiri, namun pengalaman paling autentik yang bisa didapatkan wisatawan dari suku Kayan adalah dengan mengunjungi desa Baan Huay Pu Keng di Mae Hong Son. Desa ini dekat perbatasan Thailand-Myanmar, tempat mereka dapat dengan mudah menyeberang ke tanah kelahiran mereka.

Hampir sepanjang tahun, Baan Huay Pu Keng hanya dapat diakses dengan perahu ketinting menyeberangi Sungai Pai. Kedekatannya dengan tanah air dan pegunungan mereka, membuatnya menawarkan pengalaman yang jauh lebih autentik ketimbang desa-desa Suku Leher Panjang yang terletak jauh di selatan Thailand, seperti di Pattaya. Keseharian mereka pun normal seperti pada umumnya desa-desa suku pegunungan lain, dengan beberapa bangunan yang berfungsi sebagai taman kanak-kanak, gereja, dan pusat komunitas warganya.

Teks: Melinda Yuliani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here