Menurut Survei, Milenial Dipastikan Jadi Generasi Pertama yang Melakukan Perjalanan Pascapandemi

0
2638

Sebuah survei yang dilakukan Sabre Corporation mengungkapkan bahwa banyak pelancong di Asia-Pasifik yang berencana melakukan perjalanan dalam waktu enam bulan ke depan, segera setelah larangan perjalanan dicabut. Hasil survei tersebut juga menyebutkan kalau generasi milenial lah yang akan pertama melakukan perjalanan tersebut.

“Ketika pembatasan perjalanan mulai dicabut dan kantong-kantong industri mulai pulih, kami melihat perilaku pelancong yang juga turut beradaptasi dengan normal baru,” kata Todd Arthur, Vice President Sabre untuk wilayah Asia-Pasifik.

“Temuan kami menunjukkan bahwa, meskipun kepercayaan diri pelancong terhadap keselamatan saat bepergian beragam, permintaan perjalanan itu tetap ada di seluruh Asia-Pafisik, dan hal ini dapat dimanfaatkan oleh semua sektor perjalanan.”

Berikut ini adalah enam temuan penting dari hasil survei Sabre terhadap pelancong di Asia-Pasifik.

Mayoritas wisatawan ingin melakukan perjalanan dalam enam bulan ke depan – dengan generasi milenial yang akan melakukan perjalanan terlebih dahulu

Meski lebih dari sepertiga wisatawan (35 persen) mengatakan mereka tidak akan bepergian dalam waktu dekat, atau sampai vaksin Covid-19 tersedia, ada juga indikasi positif untuk industri perjalanan, dengan 45 persen responden mengatakan mereka berencana untuk bepergian dalam waktu enam bulan ke depan (setelah pencabutan pembatasan perjalanan).

Dari semua kelompok umur, survei tersebut menunjukkan bahwa milenial (mereka yang berada dalam kategori usia 20 hingga 39) adalah yang paling berniat untuk bepergian segera setelah pembatasan dicabut, dengan 49 persen mengatakan mereka akan bepergian dalam waktu enam bulan ke depan.

Harga yang kompetitif tak lagi menjadi pertimbangan utama dalam melakukan perjalanan

Dari responden yang mengatakan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk bepergian dalam waktu dekat, atau sampai vaksin Covid-19 tersedia, mayoritas mengatakan bahwa mereka tidak akan terpengaruh oleh harga saat berencana untuk memesan perjalanan selanjutnya.

Hanya 10 persen yang mengatakan faktor utama yang akan mereka pertimbangkan adalah harga yang kompetitif, seperti tiket pesawat atau paket liburan, sementara mayoritas (41 persen) mengatakan pertimbangan utama mereka adalah relaksasi langkah-langkah keselamatan di tempat tujuan.

Sementara itu, lebih dari sepertiga (35 persen) mengatakan mereka akan mempertimbangkan kebijakan pemerintah di negara tujuan terkait pandemi Covid-19, sementara 14 persen mengatakan mereka akan memperhatikan akses dan kualitas sistem medis dan perawatan kesehatan di destinasi tujuan.

Wisatawan menganggap perjalanan udara sebagai moda transportasi paling berisiko

Lebih dari sepertiga (37 persen) responden mengatakan mereka percaya perjalanan udara menimbulkan risiko infeksi tertinggi ketika bepergian selama pandemi Covid-19 saat ini, dengan kapal pesiar dianggap sebagai moda transportasi paling berisiko berikutnya bagi para pelancong di Asia-Pasifik (34 persen).

Lalu, survei tersebut juga mengungkapkan lebih banyak wanita daripada pria yang menganggap perjalanan udara berisiko. Dari mereka yang mengatakan perjalanan udara adalah moda transportasi paling berisiko, 62 persen adalah perempuan.

Meskipun responden berpikir penerbangan menimbulkan risiko tertinggi, lebih dari setengah (52 persen) mengatakan mereka akan tetap melakukan perjalanan dengan pesawat, asalkan langkah-langkah keselamatan tertentu diberlakukan.

Selain itu, 35 persen dari semua responden mengatakan jarak sosial yang aman dengan memberi jeda berupa kursi kosong di antara penumpang adalah langkah paling penting untuk membantu mereka merasa aman saat bepergian dengan pesawat.

Langkah-langkah penting lainnya bagi calon penumpang pesawat adalah persyaratan bagi semua anggota awak dan penumpang untuk mengenakan masker, serta pembersihan yang ditingkatkan untuk nampan makan, kursi, dan toilet sebelum boarding.

Namun, bahkan dengan langkah-langkah keamanan yang berlaku, 70 persen responden yang mengatakan akan melakukan perjalanan melalui udara bakal membatalkan atau menjadwal ulang penerbangan mereka bila pesawat terisi penuh.

Lebih dari sepertiga wisatawan diperkirakan akan memilih untuk melakukan perjalanan domestik

Dari 44 persen pelancong yang berencana melakukan perjalanan dalam enam bulan ke depan, 41 persen di antaranya mengatakan akan memilih untuk melakukan perjalanan singkat (di bawah delapan jam), 33 persen mengatakan akan memilih perjalanan domestik, dan 26 persen sisanya mengatakan bahwa akan bepergian dalam waktu lama atau tidak memiliki preferensi.

Akan ada lebih banyak wisatawan yang memesan perjalanan melalui agen wisata

Bagi wisatawan yang biasanya memesan perjalanan sendiri, kemungkinan besar mereka akan mengandalkan agen wisata di masa mendatang. Hasil survei menyebutkan 68 persen responden akan menggunakan agen wisata untuk merencanakan perjalanan mereka agar tak perlu repot lagi melakukan riset, terutama di masa pandemi Covid-19 ini yang aturan perjalanannya masih tak menentu dan berubah dengan cepat.

Hotel bermerek internasional akan menjadi pilihan akomodasi utama bagi sebagian besar wisatawan

Sejumlah 57 persen responden mengatakan sebelumnya lebih suka tinggal di hotel bermerek internasional, dan 86 persen di antaranya menyebutkan kalau hotel-hotel ini akan tetap menjadi pilihan utama mereka pascapandemi Covid-19.

Sementara 64 persen responden yang pilihan akomodasinya sebelum Covid-19 adalah rumah liburan, hotel butik, motel, atau tipe akomodasi lainnya mengatakan kalau akan mengubah opsi akomodasi mereka ke hotel bermerek internasional untuk perjalanan di masa mendatang.

Alasan utama wisatawan untuk tetap memilih atau beralih ke hotel bermerek internasional adalah karena adanya jaminan sanitasi, peningkatan kebersihan, serta penggunaan teknologi baru untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Teks: Melinda Yuliani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here