Mengenal Suku-suku Asli di Sabah

0
697

Salah satu yang membuat Sabah unik adalah kehadiran suku-suku aslinya yang memberi warna berbeda dari wilayah Malaysia di Peninsula Malaya yang terdiri dari etnis Melayu, Tiongkok, dan India.

Ada sekitar 30 suku di Sabah dengan budaya, bahasa, dan adat-istiadat yang berbeda satu sama lainnya. Lima yang terbesar adalah Dusun atau Kadazan yang merupakan suku mayoritas, selain Rungus, Lundayeh, Bajau, dan Murut. Di Mari-Mari Cultural Village, pengunjung dapat merasakan langsung kehidupan sehari-hari berbagai suku asli Malaysia di Borneo.

Ditemani pemandu, pengunjung juga bisa mencicipi minuman tradisional, merasakan sendiri sulitnya membuat api, menggunakan senjata tradisional, hingga mencoba permainan khas yang ada. Tur diadakan tiga kali setiap hari, yakni pukul 10:00 (ditutup dengan makan siang), pukul 14:00 (ditutup dengan minum teh), dan pukul 18:00 (ditutup dengan makan malam).

Berikut adalah sejumlah suku asli di Sabah.

Kadazan

Terkenal dengan kemampuan membuat lihing atau arak tapai dari ketan dan ragi yang diperam dalam gentong tanah liat yang tertutup rapat selama sebulan. Setelah satu bulan, ketan yang sudah diperam itu diperas untuk didapat air tapai yang rasanya manis dengan kadar alkohol lima hingga tujuh persen. Lihing terbaik konon hanya dapat dibuat oleh wanita yang berhati bersih.

Rungus

Suku ini dikenal dengan kepandaian membuat gong dan beternak lebah kelulut, jenis lebah kecil tanpa sengat untuk diambil madunya. Agar lebah membuat sarang dan menghasilkan madu, suku Rungus menggunakan seruas bambu besar yang dilubangi dan bagian luarnya dilumuri madu. Bambu berlumur madu itu akan dibiarkan selama tiga bulan, sebelum madu siap dipanen. Ampas madu digunakan sebagai lilin dan lem alat musik sompoton, alat musik tiup tradisional dari bambu dan labu kering.

Lundayeh

Merupakan suku minoritas dan hanya ditemui di Sipitang dan Lawas (antara Sabah dan Sarawak), suku ini adalah salah satu subetnik Dayak yang tersebar di Kalimantan, Sabah, Sarawak, dan Brunei Darussalam. Dahulu mereka dikenal sebagai suku pemburu kepala (headhunter) yang hasil buruannya dipajang di halaman rumah di atas pulung buaye (buaya tanah), bukit kecil dari tanah yang dibentuk seperti buaya. Di punggungnya, dari kepala hingga ekor, ditancapkan bilah-bilah bambu untuk memajang kepala. Walau perburuan kepala sudah berhenti, tapi pulung buaye tetap dibuat untuk berbagai perayaan.

Bajau

Di Mari-Mari Cultural Village hanya terdapat rumah tradisional Bajau Darat, karena Bajau Laut tinggal di atas perahu dan hidup nomaden. Suku Bajau berasal dari Filipina yang mendarat di Sabah 500 tahun lalu. Pekerjaan sebagai pedagang membuat suku Bajau berkenalan dengan lebih banyak kelompok masyarakat lain. Karena itu rumahnya lebih berwarna, demikian pula barang-barang yang ada di dalam rumah. Kaum ini adalah kaum pertama yang memeluk Islam, itu sebabnya ada ruang salat di rumah Bajau.

Murut

Suku Murut tinggal di rumah panjang yang dilengkapi belantaran, trampolin tradisional dari kayu pohon jambu yang elastis berlapis rotan, di mana biasanya di atas belantaran tergantung berbagai hadiah untuk diperebutkan. Cara memainkan belantaran ini adalah beberapa orang berdiri di tepi belantaran dan satu orang di tengah. Bersama mereka melompat-lompat kecil yang makin lama makin cepat, sehingga dirasa tepat bagi orang yang di tengah untuk melontarkan tubuhnya ke udara. Awalnya, permainan ini untuk menyambut pahlawan yang pulang berperang.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here