Takut Kesepian Jadi Alasan Pelancong Enggan Bepergian Sendirian

0
203

Sadar atau tidak, tren wisata terus berubah seiring bergantinya tahun. Belakangan ini, misalnya, semakin banyak orang yang melakukan perjalanan solo demi menikmati waktu sendiri tanpa dampingan orang lain.

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh YouGov, Klook juga menemukan bahwa sebagian besar pelancong tertarik untuk melakukan perjalanan sendiri – tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau kebangsaan. Studi ini dilakukan terhadap hampir 21.000 responden di 16 pasar, dengan 76 persen di antara mereka telah melakukan perjalanan solo atau sedang mempertimbangkannya.

Meski ada peningkatan minat secara global, data menunjukkan bahwa pelancong solo di Asia memimpin dengan selisih yang besar. Antara 69 hingga 93 persen pelancong dari Asia telah melakukan perjalanan solo di masa lalu atau mengatakan mereka terbuka untuk gagasan itu. Sebagai perbandingan, di negara-negara barat angka itu berkisar antara 60 hingga 69 persen.

Ketika ditanya tentang alasan mereka bepergian sendiri, setengah dari responden mengatakan mereka ingin menikmati me time tanpa gangguan atau menghadiahi diri atas kerja keras mereka, yang menunjukkan bahwa para pelancong kini semakin menghargai kemandirian mereka.

Takut Kesepian Jadi Perhatian Utama

Tentu saja, tidak semua orang siap menjelajah sendiri. Survei Klook juga mengungkapkan adanya hubungan cinta-benci antara pelancong dengan perjalanan solo. Banyak dari mereka tertarik untuk bepergian sendirian, namun secara bersamaan memiliki ketakutan akan kesepian selama perjalanan.

Bahkan, setengah dari responden yang ingin melakukan perjalanan solo mengatakan ketakutan akan kesepian telah menjadi rintangan terbesar. Kekhawatiran ini lazim di semua generasi, dengan Gen Z, Millennials, Gen X, dan Baby Boomers menganggap takut kesepian menjadi perhatian utama mereka. Selain itu, 48 persen mengatakan keselamatan adalah kekhawatiran terbesar mereka.

“Sangat menyenangkan melihat adanya keinginan kuat untuk melakukan perjalanan solo di banyak demografi. Yang menarik, kami telah mengamati kontras yang mengejutkan di mana para pelancong semakin banyak yang ingin mencari me time namun khawatir kesepian, sehingga menghasilkan hubungan cinta-benci dengan perjalanan solo,” kata Eric Gnock Fah, COO dan salah satu pendiri Klook.

“Namun perjalanan solo tidak harus berarti kesepian. Di Klook, kami senang memberdayakan pelancong solo untuk menjelajahi tempat-tempat baru secara mandiri dan menikmati waktu mereka sendirian dengan percaya diri. Dengan menghubungkan sesama pelancong solo dalam petualangan yang tak terlupakan, dari kamp selancar di Bali hingga mencicipi anggur di Yarra Valley Melbourne, kami berharap lebih banyak pelancong menyadari bahwa menjelajah sendiri adalah hal yang menyenangkan untuk dilakukan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here