3 Hal yang Tak Boleh Terlewat Saat ke Yangon

0
149

Setelah lima dekade dalam kekuasaan militer yang represif dan mengalami konflik berkepanjangan di banyak wilayah, Myanmar lalu bangkit di tahun 2011 ketika junta militer secara resmi dibubarkan, dan mereka pun mulai membuka diri terhadap pejalan yang ingin menyingkap pesonanya. Inilah saat terbaik mengunjungi Myanmar sebelum Negeri Tanah Emas tersebut menjadi destinasi populer di tahun-tahun mendatang.

Shwedagon Pagoda

Penganut Buddha di seluruh dunia bertekad mengunjungi situs terpenting di Myanmar ini setidaknya sekali seumur hidup. Diperkirakan dibangun 2.500 tahun lalu, pagoda setinggi 99 meter yang berlapiskan 27 metrik ton lembaran emas serta berhiaskan ribuan berlian dan ruby ini menyimpan relik dari Buddha yang sudah mencapai pencerahan, termasuk delapan helai rambut dari Siddhartha Gautama. Menempati kompleks seluas 46 hektar dengan empat pintu masuk di sisi utara (Arzarni Road), timur (Arzarni Road), barat (U Wisara Road), dan selatan (Shwedagon Pagoda Road), pagoda ini dikelilingi stupa-stupa yang lebih kecil, serta museum dan kuil-kuil yang menyimpan patung-patung Buddha, replika gigi sang Buddha dari Lingguang Temple, dan tapak kaki Buddha. Tampak berkilauan di bawah terik matahari, pagoda ini terutama fotogenik selepas senja, yaitu ketika langit sedang memerah dan lampu-lampu mulali menyala. (Buka pukul 04:00-22:00, tiket 8.000 kyat, taksi dari pusat kota sekitar 2.000 – 4.000 kyat)

TIP: Selain harus berpakaian sopan (baju berlengan dan celana minimal selutut), pengunjung yang memasuki berbagai monumen Buddha, termasuk Shwedagon Pagoda, juga tidak boleh mengenakan alas kaki. Terdapat rak untuk menyimpan alas kaki di pintu masuk, namun bila berniat masuk dan keluar di pintu yang berbeda, sebaiknya bawa kantong plastik untuk menyimpan alas kaki. Datanglah di pagi hari sebelum matahari terik atau sore ketika lantai tidak terlalu panas.

Pagoda Lain di Yangon yang Patut Dikunjungi:

  • Sule Pagoda yang menjulang setinggi 48 meter di pusat kota yang dikelilingi deretan bangunan kolonial.
  • Kaba Aye Pagoda dengan lima pintu masuk yang masing-masing dijaga patung Buddha, sementara di pilar utamanya terdapat ruangan yang menyimpan patung perak Buddha dalam posisi duduk.
  • Botataung Pagoda yang stupa utamanya memiliki akses berliku serta dinding dan langit-langit berhiaskan emas, selain di sini tersimpan rambut Siddhartha Gautama.
  • Chauk Htat Gyi Pagoda yang menyimpan patung Buddha berbaring sepanjang 65 meter dan setinggi 16 meter.

Bogyoke Aung San Market

Sering disingkat Bogyoke Market, atau disebut dengan nama aslinya Scott Market, pasar di sisi utara pusat kota ini merupakan tempat paling terkenal di Yangon untuk berbelanja. Menempati bangunan warisan kolonial yang dibangun 1926, atau di masa akhir pendudukan Inggris di Myanmar, banyak yang salah mengira nama Scott Market diberikan untuk mengabadikan nama James George Scott, pegawai negeri sipil Inggris yang memperkenalkan sepak bola kepada rakyat Myanmar. Padahal, nama tersebut diambil dari Komisioner Kota, Gavin Scott. Barulah setelah Myanmar merdeka, pasar dan jalan di depannya diberi nama Bogyoke Aung San, pahlawan kemerdekaan Myanmar yang tak lain adalah ayah tokoh demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi. Terdapat lebih dari 2.000 toko di sini yang menjual longyi dalam aneka motif dan warna, kaos, perhiasan, barang antik, dan kerajinan tangan. Pastikan menawar minimal 50 persen dari harga yang diberikan penjual. Untuk kaos, misalnya, harganya mulai 3.500 kyat. Sementara gantungan kunci dan tempelan kulkas mulai 1.000 kyat. Karena para penjual di sini tidak menerima pembayaran dengan kartu ATM dan kartu kredit, di dekat pintu masuk utama sudah disediakan ATM untuk kartu yang berlogo Visa, Mastercard, dan Cirrus. (Buka pukul 09:00-17:00, Bogyoke Aung San Road)

Inya Lake

Merupakan tempat populer untuk berkencan muda-mudi (karena bersebelahan dengan Yangon University), dan sering disebut-sebut dalam novel, lagu, dan bahkan menjadi latar film-film Myanmar, Inya Lake yang memiliki taman seluas 15 hektar ini menawarkan tempat untuk jogging, golf, hingga berenang dan mengayuh kapal. Selain menikmati pemandangan di sekitarnya, pengunjung juga dapat melihat sejumlah rumah megah milik orang-orang berpengaruh Myanmar di sekitar danau, termasuk rumah mantan diktator Myanmar Jenderal Ne Win yang berseberangan dengan rumah Aung San Suu Kyi. Yangon Sailing Club di sisi barat danau terbuka untuk umum setiap Jumat untuk menikmati matahari terbenam, sementara di sisi timur danau atau tepatnya di seberang Sedona Hotel, terdapat driving range dengan deretan restoran. (Antara Pyay Road dan Kabar Aye Pagoda Road, atau sekitar 3.000 kyat naik taksi dari pusat kota)

Jangan lewatkan…

  • Kandawgyi Lake, yang walau lebih kecil dari Inya Lake, namun memiliki sejumlah kafe dan restoran yang menyajikan hidangan setempat berlatarkan Shwedagon Pagoda.
  • People’s Square and Park di barat Shwedagon Pagoda memiliki lokomotif uap tua, pesawat antik Myanmar Airways, dan planetarium.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here