Wisata Seru ke Lokasi Syuting “Black Panther”

0
517

Black Panther yang rilis Februari 2018 lalu tak hanya memecahkan berbagai rekor, termasuk sebagai film Marvel dengan rating tertinggi di Rotten Tomatoes, film superhero dengan penjualan tiket presale terbanyak di Amerika Serikat, dan film non-sekuel dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa – namun juga memukau penontonnya dan membuat mereka penasaran untuk mengunjungi lokasi syutingnya.

Wakanda memang hanyalah kota fiktif ciptaan komikus Stan Lee dan Jack Kirby, namun beberapa lokasi syuting Black Panther berikut ada di dunia nyata dan bisa menjadi inspirasi untuk perjalanan Anda berikutnya.

Zambia, Afrika Timur

Perjalanan menuju negara yang terkurung daratan ini memang jauh, selain lokasinya juga terpencil dan mesti menghadapi berbagai tantangan, seperti infrastruktur dan sistem transportasi yang tak memadai. Namun, petualangan di sini akan membawa pejalan jauh ke dalam rimbunnya hutan, di mana beragam satwa liar dapat berkeliaran dengan bebas. Di lain waktu, Anda dapat menyusuri sungai yang luas dan tenang untuk melihat kuda nil dan buaya, menjajal derasnya jeram di dekat Victoria Falls, mencicipi bungee jumping dari Victoria Falls Bridge, atau bahkan menyaksikan migrasi wildebeest setiap Juli hingga Oktober.

Uganda, Afrika Timur

Saat membicarakan Afrika Timur, kebanyakan orang langsung membayangkan kunjungan ke sabana yang luas di Maasai Mara, Kenya atau Serengeti, Tanzania, sementara yang lain langsung teringat gorila gunung yang ada di Rwanda. Tak sedikit orang yang melewatkan Uganda saat berkunjung kemari, padahal negara ini tak kalah menawarkan atraksi yang menarik.

Rwenzori, misalnya. Merupakan lokasi pemukiman suku Jabari dalam film Black Panther, pegunungan yang terletak di perbatasan Uganda dan Republik Demokratik Kongo ini memiliki latar menawan dengan puncaknya yang berselimut salju, bahkan di musim panas sekalipun. Di sini jugalah pejalan dapat menikmati hiking, mulai dari rute-rute pendek untuk melihat sekilas alamnya, hingga Kilembe Trail berdurasi delapan hingga sembilan hari dengan trek melalui hutan belantara, puncak-puncaknya yang terjal, dan danau gletser.

Pengunjung juga dapat menyaksikan primata Afrika di Kibale National Park, menjumpai suku Karamojong di Kidepo Valley National Park, menyusuri sungai di Murchison Falls National Park sambil melihat satwa yang berkeliaran di sekitarnya (termasuk burung shoebill yang terancam punah), atau mencicipi berendam di danau kawah Kyaninga.

Afrika Selatan

Saat menonton Black Panther, sulit untuk tak terpesona oleh kekayaan dan keunikan budaya Afrika. Meski terkenal dengan wisata safarinya, Afrika Selatan juga memiliki desa-desa budaya, di mana pengunjung dapat datang untuk melihat langsung keseharian penduduk setempatnya.

Suku Zulu misalnya, merupakan kaum pengembara yang kemudian menetap di KwaZulu-Natal dengan tinggal di gubuk-gubuk berbentuk lingkaran yang dinamai kraal. Penduduk setempatnya masih mempertahankan budaya mereka, mulai dari mengikuti sejumlah ritual hingga mengenakan pakaian tradisional untuk sehari-hari. Pria suku Zulu mengenakan amabeshu, celemek yang terbuat dari kulit kambing atau sapi, pada bagian belakang tubuh, menghias kepala dengan bulu, serta memakai secarik kain dari kulit kambing pada lengan dan kaki. Para wanita mengenakan isidwaba, rok dari kulit kambing atau sapi, dan bila tidak atau belum menikah, mereka mesti menutupi bagian atas tubuhnya dengan untaian manik-manik.

Alternatif lainnya adalah menuju desa budaya Basotho yang berada di timur Golden Gate Highlands National Park. Di sini pengunjung bakal mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang tradisi dan gaya hidup orang-orang Sotho mulai dari abad 16 hingga saat ini.

Iguazu Falls, Argentina

Ingatkah Anda akan air terjun yang menjadi tempat pertarungan sekaligus penobatan raja di Wakanda? Air terjun tersebut ternyata benar-benar ada di dunia nyata, atau tepatnya membentang di garis basal yang membatasi Argentina dan Brasil.

Terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1984, Iguazu Falls yang terdiri 275 air terjun ini begitu memukau, sampai-sampai Ibu Negara Amerika Serikat Eleanor Roosevelt pernah melontarkan kata “Poor Niagara”. Pasalnya, bila dibandingkan Niagara Falls, Iguazu Falls ini hampir dua kali lebih tinggi dan tiga kali lebih lebar.

Dapat diakses dari Buenos Aires dengan naik pesawat selama 90 menit, pengunjung dapat mengikuti walking tour melalui boardwalk di Devil’s Throat, air terjun tertinggi di Iguazu Falls; menyusuri sungai dengan naik speedboat untuk melihat ratusan air terjun ini dari dekat; atau mengeksplor hutan hujannya yang rimbun yang mengelilingi air terjun tersebut dengan lebih dari 2.000 spesies tanaman, 400 spesies burung, dan 80 spesies mamalia.

Busan, Korea Selatan

Ryan Coogler selaku sutradara Black Panther memuji Busan karena arsitektur modern, lampu-lampu neonnya yang terang, dan bangunan tradisionalnya dapat menyatu dengan baik untuk memberikan pemandangan yang menakjubkan dari sebuah kota yang berlatar pantai. Kota terbesar kedua di Korea Selatan yang sedang berkembang sebagai tujuan wisata populer di dunia ini juga memiliki deretan pantai terbaik yang cocok untuk liburan musim panas.

Lewatkan hari di Gwangalli Beach yang memiliki hamparan pasir putih bersih, perairan biru, dan panorama spektakuler Gwangandaegyo (Diamond Bridge), yang semakin cantik di malam hari berkat lampu hias yang menyinarinya. Di sini jugalah biasanya ada sejumlah acara dan konser digelar saat akhir pekan yang menarik banyak anak muda.

Area Gwangalli juga populer dengan deretan kafe, restoran, dan tempat pembuatan birnya, sehingga jangan khawatir kelaparan. Bila kebetulan berkunjung di bulan April, pastikan untuk ambil bagian dalam Gwangalli Eobang Festival untuk menjajal net fishing dan berbagai permainan tradisional lainnya.

Sesuai dengan reputasinya sebagai kota pelabuhan, makanan laut segar berlimpah di Busan, karena itulah jangan lewatkan kunjungan ke Jagalchi Market. Pasar ikan terbesar di Korea yang beroperasi sejak 1924 ini namanya diambil dari pantai berkerikil di dekatnya (jagal adalah kata dalam bahasa Korea yang berarti kerikil). Dengan deretan akuarium berisi kepiting, cumi-cumi, gurita, belut, dan beragam jenis ikan lainnya yang jarang ditemui di Indonesia, pasar ini menawarkan pengalaman unik bagi wisatawan. Para wanita paruh baya yang membersihkan dan memotong ikan – atau dikenal sebagai Jagalchi ajumma – akan siap melayani pengunjung yang ingin mencicipi seafood, baik mentah maupun dimasak.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here