Lupakan Ranu Kumbolo yang Ramai, Berkemah Saja di Ranu Regulo yang Cantik Saat Matahari Terbit

0
3693

Sejak 1 Oktober, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) membuka kembali jalur pendakian di Gunung Semeru secara bertahap dan mengeluarkan regulasi ketat untuk mencegah penyebaran Covid-19. Bagi pendaki Gunung Semeru, Ranu Pani merupakan pos terakhir untuk pendakian ke Puncak Mahameru.

Desa Ranu Pani memiliki tiga danau, yaitu Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo. Nama terakhir lebih populer di kalangan pendaki dan sering dijadikan area berkemah. Namun, Ranu Regulo tak kalah menakjubkan dan minim pengunjung, sehingga kegiatan berwisata terasa lebih menyenangkan di sini. Saking sepinya, di Ranu Regulo hanya terdengar suara burung dan serangga.

Walau berada di ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut, tidak sukar untuk mencapai Ranu Regulo. Jika bertolak dari kota Lumajang, hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan dengan jarak tempuh 30 kilometer. Lebih seru jika menaiki motor sehingga dapat menikmati udara segar khas pegunungan.

Mudah saja untuk mengakses Ranu Regulo, kamu dapat mengikuti peta digital melalui ponsel. Jalanan yang dilewati sebagian besar sudah dilapisi aspal, sehingga tak ada rintangan yang berarti.

Sesampainya di Ranu Pani, parkir kendaraan dan susur area perkebunan dan pemukiman warga untuk mencapai Ranu Regulo. Jalur yang dilewati nyaman untuk dilintasi dan hanya berjarak dua kilometer. Perjalanan singkat menuju Ranu Regulo berlalu tanpa lelah dan cocok bagi pendaki pemula yang ingin menikmati suasana pegunungan, tanpa perlu susah payah mencapainya.

Cantik Saat Matahari Terbit

Ranu Regulo adalah danau alami dengan warna air biru kehijauan, yang hanya seluas kurang dari satu hektar. Jika dibandingkan dengan Ranu Pani, Ranu Regulo lebih kecil. Ketika mengedarkan pandangan, sekeliling Ranu Regulo dikelilingi pebukitan dan pepohonan hijau, sebuah gambaran alam yang sempurna.

Kecantikan Ranu Regulo berlipat ganda saat matahari terbit. Kabut yang menyelimuti area menambah kesan magis. Biasanya, para pendaki memilih tiba di Ranu Regulo malam hari, untuk kemudian berkemah dan menanti pagi merekah dari tepi danau. Jika berkemah di Ranu Regulo, suhu rata-rata sekitar 10 derajat Celsius dan bisa turun hingga minus 4 derajat Celsius. Pengunjung disarankan untuk tidak berenang di danau karena terlalu dingin.

Area berkemah di Ranu Regulo sudah menyediakan kamar mandi untuk bilas. Di Ranu Pani juga terdapat tempat penyewaan tenda dan peralatan berkemah. Jika malas mendirikan tenda, menginap saja di pondok-pondok penginapan di Desa Ranu Pani.

Selain berkemah dan menikmati pemandangan, Ranu Regulo cocok bagi mereka yang gemar fotografi. Kamu dapat menyusuri tepian danau untuk mengabadikan momen,  memanfaatkan dermaga kecil untuk berfoto berlatar danau, atau memilih duduk di batang pohon yang terbengkalai. Beberapa pengunjung juga memanfaatkan danau untuk kegiatan mancing.

Menyusul pembukaan kembali jalur pendakian Semeru, Pemerintah Lumajang juga membuka spot berkemah baru dekat Ranu Regulo, yaitu Bukit Gending, dengan posisi di sisi selatan danau. Dari sini, kamu dapat menikmati Ranu Regulo dari ketinggian.

Tip Mengunjungi Ranu Regulo

  • Waktu terbaik mengunjungi Ranu Regulo adalah saat musim kemarau.
  • Kenakan pakaian hangat untuk melindungi tubuh dari udara dingin.
  • Kenakan alas kaki yang nyaman dan anti-licin.
  • Kenakan masker dan jaga jarak aman dengan sesama pengunjung.
  • Bersihkan segala perlengkapan berkemah dengan disinfektan.
  • Sedia hand sanitizer, sabun cair, dan masker cadangan.
  • Bawalah perbekalan makanan dan minuman.
  • Bawa kantong untuk membuang sampah.
  • Jangan terlalu fokus bermain gawai, lagipula area Ranu Regulo sering susah sinyal.
  • Dari Ranu Regulo, kamu dapat mengunjungi Ranu Pani dengan jalan kaki sekitar 500 meter.
  • Walau masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), pengunjung Ranu Regulo tidak perlu melakukan pendaftaran secara daring. Ranu Regulo buka 24 jam dengan tiket masuk Rp29.000 (Senin-Jumat) atau Rp34.000 (Sabtu-Minggu, hari libur nasional), serta tiket mobil Rp10.000 dan motor Rp5.000, yang semuanya dibayar di lokasi wisata.

Teks: Priscilla Picauly | Editor: Melinda Yuliani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here