Minggu Ini, Yuk Nonton Virtual “A Bucket of Beetles” Persembahan Papermoon Puppet Theatre

0
3751
Foto: Dok. Papermoon Puppet Theatre

Pertunjukan virtual menjadi solusi bagi penikmat seni yang rindu menyaksikan karya-karya terbaik di tengah pandemi. Dengan konsep daring, siapa saja dapat menontonnya dengan mudah di mana pun lokasinya dan terjangkau dari segi harga tiket. Bahkan, beberapa pertunjukan dapat dinikmati secara gratis.

Selama pandemi, ada banyak hiburan daring yang sudah ditayangkan, mulai dari konser musik berbagai genre hingga pertunjukan teater produksi lokal maupun yang sekelas Broadway. Akhir pekan ini, kosongkan waktu untuk menyaksikan pertunjukan teater boneka yang dibawakan Papermoon Puppet Theatre (PPT), kelompok teater boneka asal Yogyakarta.

Bagi penikmat seni, nama PPT sudah tidak asing lagi. Namun bagi orang awam, PPT dikenal luas berkat kehadirannya melalui kisah Secangkir Kopi dari Playa dalam film Ada Apa Dengan Cinta? 2 (2016). PPT menghadirkan kembali pertunjukan A Bucket of Beetles, yang sebelumnya sudah pernah ditampilkan secara virtual.

A Bucket of Beetles merupakan pertunjukan boneka non-verbal pertama PPT, yang akan disiarkan secara daring pada 25 Oktober. Tersedia dua waktu penayangan, yaitu pukul 16:00 dan 20:00 WIB, dengan tiket nonton Rp100.000.

Foto: Dok. Papermoon Puppet Theatre

Reservasi tiket sudah dibuka sejak 22 Oktober melalui laman resmi Patjar Merah. Sebelum membeli tiket, penonton wajib memiliki akun Patjar Merah. Setelah terdaftar, kamu dapat mengklik Get Ticket, diikuti dengan memilih slot waktu menonton. Segera lakukan pembayaran maksimal dua jam setelah melakukan reservasi.

Pentas teater akan ditayangkan melalui Google Meet dan bagi penonton yang sudah membeli tiket, tautan theatre space akan dikirim dua jam sebelum pertunjukan dimulai. Untuk informasi lebih lanjut, dapat mengunjungi Instagram @papermoonpuppet atau surel ke papermoonpuppet@gmail.com.

Kisah Wehea dengan Alam

Kisah A Bucket of Beetles lahir dari ide anak Maria dan Iwan, Lunang Pramusesa yang saat itu berusia lima tahun. Sentra cerita berpusat pada Wehea, yang namanya berasal dari hutan di Kalimantan dan tinggal di hutan hujan tropis. Dekat dengan alam, suatu hari Wehea mesti menempuh perjalanan panjang untuk mencari kumbang badak yang akan menyelamatkan hidupnya.

Foto: Dok. Papermoon Puppet Theatre

Selain menampilkan pertunjukan virtual, akan digelar diskusi bertema “Puppetry and Ecology in Indonesia” yang diinisiasi Marianna Lis (researcher dari Polandia) dan Laura Nozlopy (researcher dari Inggris). Diskusi berlangsung pada 26 Oktober pukul 12:00 (GMT), yang dapat diikuti dengan melakukan registrasi terlebih dulu melalui surel di wayang.ecology@gmail.com.

Dalam diskusi ini, turut hadir Hugh Moffatt (perwakilan dari British Council Indonesia), Basundara Murba Anggana (Komunitas Sakatoya), Matthew Isaac Cohen (University of Connecticut), Ki Purjadi (dalang asal Cirebon), Muhammad Sulthoni Sastrowijoyo (Wayang Sampah), I Gusti Putu Sudarta (Wayang Plastik), dan Maria Tri Sulistyani (Papermoon Puppet Theatre). Nantinya diskusi akan dipimpin moderator Marianna Lis dan Laura Noszlopy.

Lahir dari Kegelisahan

PPT hadir karena situasi yang memprihatinkan. Saat itu, Maria dan Iwan melihat anak-anak Indonesia tidak diajarkan untuk bereksperimen mencoba hal-hal baru, melainkan lebih kepada meniru. Pada 2006, Maria dan Iwan mendirikan Papermoon, sangar anak-anak dengan perpustakaan kecil yang sesekali menampilkan pertunjukan boneka.

Foto: Dok. Papermoon Puppet Theatre

Seiring berjalannya waktu, PPT melahirkan cerita-cerita orisinal yang jujur dan menyentuh melalui boneka-boneka yang mereka buat. Selain A Bucket of Beetles, PPT juga meciptakan karya-karya terbaik, seperti MWATHIRIKA, The Scavenger, PUNO (Letters To The Sky), BEFORE SUNRISE, The Old Man’s Books, dan Prani.

Dalam pertunjukannya, PPT mengadopsi teknik kuruma ningyo, yaitu teknik sandiwara boneka asal Jepang. Saat pertunjukan, pemain teater duduk di atas kursi roda kecil (rokuro kuruma) dan memainkan boneka. Berbeda dengan bunraku, teknik ini membutuhkan hingga tiga pemain untuk memainkan boneka, sehingga lakon terlihat lebih dinamis.

PPT sering tampil di sejumlah negara dan rutin menggelar pesta boneka berskala internasional tiap dua tahun sekali. Untuk tahun ini, pesta boneka digelar secara virtual yang mengambil tema “A Sip of Joy” dan baru saja rampung digelar pada 5-11 Oktober.

Teks: Priscilla Picauly | Editor: Melinda Yuliani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here