Yang Terbaik di Okinawa

0
66

Prefektur paling selatan Jepang ini disebut warga setempat sebagai Churashima, yang dalam bahasa asli Okinawa berarti negeri kepulauan yang indah. Sejarah Okinawa bermula dari Dinasti Ryukyu yang semasa pemerintahannya mendapat pengaruh budaya Tiongkok akibat kedekatan hubungan para rajanya dengan Kekaisaran Tiongkok. Hal inilah yang membuatnya begitu unik dibandingkan prefektur-prefektur lain di Jepang.

  • Shurijo Castle Park

Dibangun sekitar abad 14, Kastel Shurijo merupakan sentra kehidupan dan pemerintahan Kerajaan Ryukyu selama hampir 500 tahun, yaitu sejak zaman Raja Sho Hashi yang menyatukan kerajaan hingga masa Raja Sho Tai, penguasa terakhir Ryukyu sebelum menyerahkan kekuasaannya pada rezim Meiji.

Berkat perdagangan dan pertukaran barang dengan Tiongkok dan wilayah lain di Asia Tenggara (Ayutthaya, Patani, Luzon, Melaka, hingga Aceh, Jambi, Cirebon, dan Gresik), desain kastel ini memadukan banyak budaya dan menjadikannya berbeda dari kastel-kastel lain di Jepang. Hal inilah juga yang kemudian membuatnya sebagai satu dari empat kastel di Jepang yang ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia.

Kastel Shurijo beberapa kali mengalami kehancuran, tapi yang terparah adalah akibat Pertempuran Okinawa pada 1945 karena setelahnya hanya menyisakan fondasi batu. Kastel yang pernah menjadi ibu kota Okinawa hingga 1870-an ini baru direstorasi pada 1992. Kastel Shurijo memiliki tiga area penting, yaitu area administrasi (tempat raja melakukan pembahasan politik dan diplomasi), area perayaan dan ritual (area paling suci), dan area residen (tempat raja dan keluarganya tinggal).

Setelah restorasi, kini pengunjung dapat menyusuri kompleks kastel dengan melewati beberapa gerbang tanpa pintu yang merepresentasikan semangat keterbukaan Kerajaan Ryukyu. Keenam gerbang, yaitu Shureimon, Kankaimon, Zuisenmon, Roukokumon, Koufukumon, dan Houshinmon, merupakan akses masuk ke berbagai area penting di kastel. Gerbang-gerbang ini juga menjadi simbol keunikan Okinawa. Buktinya, pecahan uang kertas 2.000 yen – yang kini telah jarang ditemukan – memuat gambar Gerbang Shureimon. Gambar tersebut dipilih untuk menyambut KTT G8 ke-26 di Okinawa pada tahun 2000 dan Gerbang Shureimon dinilai mewakili Okinawa.

Shurijo Castle Park beroperasi sepanjang tahun pukul 08:30 hingga 18:00 (Desember- Maret), hingga 19:00 (April-Juni dan Oktober-November), dan hingga 20:00 (Juli-September) dengan tiket dewasa 820 yen, pelajar 620 yen, dan anak-anak 310 yen.

  • Okinawa Prefectural Peace Memorial Museum

Kisah suram Okinawa dapat diintip di Okinawa Prefectural Peace Memorial Museum, sebuah memorial dan museum yang didedikasikan bagi korban Pertempuran Okinawa antara Jepang dan Sekutu yang berlangsung 82 hari pada 1945. Dijuluki Typhoon of Steel (atau dalam bahasa Jepang disebut tetsue no ame yang berarti hujan besi), pertempuran berdarah ini begitu dahsyat karena Sekutu menggempur Okinawa besar-besaran, yang dibalas Jepang dengan serangan kamikaze (serangan bunuh diri lewat udara). Pergerakan militer yang masif ini mengorbankan lebih dari 100.000 tentara Jepang, 65.000 tentara Sekutu, dan puluhan ribu warga sipil Okinawa – ini belum termasuk yang terluka dan bunuh diri.

Okinawa Prefectural Peace Memorial Museum yang berada di Bukit Mabuni, Itoman ini merupakan tempat terbaik untuk mengetahui sejarah pertempuran hebat ini, mulai dari pemicunya, yang terjadi semasa perang, dan akibat-akibatnya yang bahkan masih dapat dirasakan hingga hari ini. Disarankan untuk mengunjungi museum di lantai dua terlebih dahulu dengan meminjam perangkat audio (tersedia dalam bahasa Jepang, Inggris, Mandarin, Korea, dan Spanyol) untuk mendengarkan penjelasan tentang pertempuran dan koleksi yang dipamerkan, antara lain berupa potret hitam-putih, barang-barang peninggalan, dan gua rekayasa untuk memberi gambaran tempat perlindungan pasukan Jepang dan penduduk Okinawa semasa perang. Museum yang ditata secara kronologis ini pun memudahkan pengunjung untuk menyerap informasi.

Setelahnya, lanjutkan penjelajahan ke Ruang Observasi di lantai teratas untuk melihat keseluruhan area yang diapit perbukitan dan laut. Pada area memorial terdapat nama-nama korban yang dipahat pada dinding dan diatur berdasarkan tempat asal, baik pasukan Jepang, penduduk Okinawa, maupun tentara Sekutu. Di sini juga terdapat air mancur kecil yang tumpahan airnya membentuk semacam gelombang yang menyimbolkan perdamaian.

Okinawa Prefectural Peace Memorial Museum buka tiap hari, kecuali 29 Desember hingga 3 Januari, pukul 09.00 hingga 17.00 dengan tiket dewasa 300 yen dan anak-anak 150 yen. 

  • Okinawa Churaumi Aquarium

Memamerkan sekitar 740 spesies biota laut dari sekitar Kepulauan Ryukyu, akuarium ini terbagi dalam tiga area, yaitu Journey to the Coral Reef, Journey to the Kuroshio (Black Current), dan Journey into the Deep Sea.

Churaumi yang dalam bahasa Okinawa berarti laut yang indah, hal ini memang penggambaran perairan di sekitar Okinawa yang hangat bak di negara-negara tropis. Terumbu karang yang sehat berpadu dengan laut dalam yang terbentang dari barat ke timur di Kepulauan Nansei. Berada di dalam Ocean Expo Park, pusat perhatian di Okinawa Churaumi Aquarium adalah akuarium setinggi 8,2 meter dan lebar yang mencapai 22,5 meter di zona Laut Kuroshio.

Biota laut yang dipamerkan pun merupakan hasil pencapaian sekelompok ilmuwan yang telah berhasil mereproduksi terumbu karang Okinawa dan akuarium pertama di Jepang yang berhasil membiakkan pari manta dan memiliki pari manta jenis black morph. Selain mengenalkan kekayaan perairan Okinawa, kawasan Ocean Expo Park juga dilengkapi Native Okinawan Village yang menampilkan kehidupan masyarakat Okinawa pada abad 17-19 melalui rumah-rumah tradisional berpagar tumpukan batu.

Okinawa Churaumi Aquarium buka setiap hari, kecuali Rabu pertama Desember, pukul 08:30 hingga 18:30 (Oktober-Februari) dan hingga 20:00 (Maret-September) dengan tiket dewasa 1.850 yen, pelajar 1.230 yen, dan anak-anak 610 yen. 

  • Okinawa World

Taman rekreasi ini menawarkan beragam kegiatan bagi segala usia, mulai dari menyusuri gua alami, mengunjungi desa wisata, hingga mengintip museum ular. Penjelajahan diawali dari Gua Gyokusendo, gua alami sepanjang lima kilometer tapi baru dibuka sejauh 850 meter untuk umum. Diperkirakan terbentuk 300 ribu tahun lalu, gua ini dipenuhi stalagmit dan stalaktit mengagumkan, seperti pada Ceiling of the Spears yang memamerkan ribuan stalaktit dengan ujung-ujung setajam tombak dan Golden Cup yang merupakan stalagmit terbesar di Jepang setinggi 2,5 meter dan setebal 31 meter. Walau harus menyusuri gua yang minim cahaya dengan lantai yang basah dan sempit, pengunjung dimudahkan dengan infrastruktur yang baik berupa jalan setapak dan tangga yang kokoh. Bahkan di akhir perjalanan, pengunjung hanya perlu menaiki eskalator menuju pintu keluar.

Ryukyu di Kingdom Village juga menjadi daya tarik Okinawa World, karena di sini terdapat rumah tradisional serba terbuka – tanpa pintu – yang menjadi ciri khas arsitektur Ryukyu. Di sudut depan rumah, dekat dinding batu pembatas, biasanya diletakkan patung Dewa Ishikanto yang dipercaya dapat menghalangi Majimu (setan yang berjalan lurus) untuk masuk ke rumah. Dari contoh rumah ini juga dapat diketahui bahwa di masa lalu, hanya orang kaya saja yang dapat memiliki sumur di rumah mereka.

Di Kingdom Village, wisatawan juga dapat mencoba kimono khas Okinawa yang disebut Ryusou (diartikan secara harfiah sebagai seni berpakaian ala Ryukyu) yang berbeda dari kimono Jepang pada umumnya. Kimono Okinawa lebih terbuka karena disesuaikan dengan kondisi geografisnya yang tropis, dengan bahan yang lebih tipis dari serat tanaman bashofu yang asli Okinawa. Kimono ini juga menyertakan banyak detil, seperti motif tradisional bingata (motif floral dalam warna cerah), kasuri (motif tenun dari Kepulauan Yaeyama), dan Hana-ori (motif rumit dengan teknik khas Yomitan dari kawasan tengah Okinawa). Yang juga menjadi pembeda kimono khas Okinawa adalah penataan rambut dengan jepit rambut perak (disebut djiifaa) dan topi lebar berornamen bunga (disebut hanagasa).

Habu Museum yang berada di kompleks taman rekreasi ini memang tidak untuk semua orang. Namun yang tidak takut dengan ular, dapat menyaksikan koleksi habu atau sebutan jenis ular berbisa khas Okinawa yang juga dimanfaatkan dalam fermentasi sake. Habu sake pun kemudian menjadi minuman beralkohol khas Okinawa.

Okinawa World buka setiap hari pukul 09.00-17.00 dengan tiket terusan (Gua Gyokusendo, Kingdom Village, Habu Museum) untuk dewasa 1.650 yen dan anak-anak 830 yen.

  • Star Sand Beach, Pulau Iriomote

Kepulauan Yaeyama adalah gugusan yang terdiri Pulau Ishigaki, Iriomote, Taketomi, dan Yonaguni di barat daya Okinawa. Ishigaki merupakan gerbang menuju Yaeyama, di mana terdapat Bandara Internasional Ishigaki yang menyediakan layanan penerbangan langsung sekitar satu jam dari Naha, maupun dari kota-kota lain, seperti Tokyo, Nagoya, Osaka, Fukuoka, Hong Kong, dan Taipei.

Jika ingin ke Pulau Iriomote, disarankan naik feri sekitar 40-50 menit dari Pelabuhan Ishigaki menuju Pelabuhan Uehara atau Pelabuhan Ohara. Jika tiba di Pelabuhan Uehara, menuju pantai populer Star Sand yang bulir pasirnya berbentuk bintang (disebut hoshizuna) akan lebih mudah. Pasir di pantai ini terdiri dari bangkai foraminifera, hewan bersel satu berukuran supermini. Hidup di perairan dangkal yang hangat, akibat taifun dan tersapu ombak, foraminifera kemudian menumpuk di pantai Pulau Iriomote ini.

Namun menurut legenda, hoshizuna adalah anak-anak bintang yang mempersatukan Southern Cross (rasi bintang terkecil, disebut juga Salib Selatan) dan Northen Star (atau polaris, sang bintang utara yang dijadikan panduan arah para pelaut). Anak-anak bintang ini lahir di perairan Okinawa, kemudian dibunuh ular raksasa dan hanya menyisakan tulang-tulang untuk diratapi. Selain mengagumi butiran pasir yang unik di sini, pengunjung Star Sand Beach juga tentu saja dapat berenang atau snorkeling di perairannya yang tenang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here