Permintaan Hotel Baru di Auckland Semakin Meningkat

Pasar wisata di Selandia Baru yang semakin berkembang dari waktu ke waktu berimbas pada semakin tingginya kebutuhan kamar hotel untuk mengakomodir para tamu. Di Auckland sendiri, rencananya akan dibuka 2.500 kamar tamu dalam jangka waktu lima tahun ke depan, di mana kamar-kamar tersebut berasal dari jaringan hotel internasional, seperti IntercontinentalSO SofitelRitz-Carlton, dan Park Hyatt. Kebutuhan kamar yang masif di Auckland ini disebabkan peranan kota ini sebagai gerbang masuk Selandia Baru, juga karena Auckland merupakan sentra populasi penduduk.

Steve Armitage selaku General Manager Destination dari Auckland Tourism, Events, and Economic Development (Ateed) mengatakan, “Pariwisata mengambil alih posisi susu yang dulu menjadi barang ekspor nomor satu, di mana hal ini sudah kami perkirakan sebelumnya tapi kami tidak dapat memastikan seberapa siap infrastruktur yang ada untuk mendukungnya. Untungnya, sistem home-sharing sejenis Airbnb begitu membantu selama beberapa tahun terakhir.”

Menurut Tourism Industry Aotearoa, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung meningkat tujuh persen, mencapai angka 3,7 juta pada 2017, dengan kunjungan terbesar dari Australia, Tiongkok, juga Amerika Serikat. Dari perhitungan statistik, kunjungan wisatawan ke Selandia Baru akan semakin meningkat hingga lima juta turis pada 2025. Peningkatan jumlah ini tentu saja dipengaruhi atraksi wisata yang ditawarkan Negeri Kiwi yang beragam, mulai dari tempat lokasi syuting film trilogi The Lord of the Rings dan The Hobbit, daerah terbaik untuk berburu wine, serta memiliki jalur pendakian terbaik di dunia.

Sejumlah Kendala

Dengan kebutuhan kamar yang semakin mendesak, pembangunan akomodasi di Selandia Baru bergerak lambat, apalagi desakan datang dari terpilihnya Selandia Baru sebagai tuan rumah penyelenggaraan America Cup Yacht dan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) pada 2021. Menangani hal ini, diluncurkan Project Palace – sebuah inisiasi untuk menarik investor hotel dan pihak pengembang sejak dua tahun lalu dan hasilnya, sejumlah jaringan hotel internasional akan membuka propertinya di Selandia Baru.

Persoalan lain yang timbul adalah peningkatan jumlah wisatawan berdampak pada eksploitasi tempat wisata. Hal ini dikeluhkan komunitas lokal yang prihatin dengan bahayanya ekosistem alami di negerinya akibat terlalu sering dikunjungi wisatawan. Menyingkapi hal ini, pemerintah mengambil langkah untuk memungut pajak turis yang mulai berlaku tahun depan. Ateed pun di awal tahun ini berkolaborasi dengan mitra kerja dinas pariwisata meluncurkan Destination Auckland 2025 yang memfokuskan strategi pariwisata yang lebih terukur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here