Gowes Santai Mengitari Little Netherland

Revitalisasi Kota Lama Semarang seakan menghidupkan kembali kawasan pusat perdagangan penting abad 19 dan 20. Saking pentingnya peran Kota Lama Semarang, VOC niat membangun benteng di situ, yang dinamai Benteng Vijhoek.

Jika diamati, kawasan Kota Lama Semarang tampak terpisah dari daerah sekitar, makanya dijuluki Little Netherland. Hal ini juga didukung atmosfer kawasan yang dihuni puluhan bangunan berusia ratusan tahun, dengan arsitektur yang mengikuti ciri khas bangunan dari Benua Biru pada masa itu.

Dengan wajah yang kian rupawan, Kota Lama Semarang tidak lagi menjadi daerah tua yang menjemukan. Kini, kawasan ini menjadi destinasi wisata sejarah dan fotografi, yang dapat dinikmati sembari menggenjot sepeda.

Mereka yang doyan gowes santai di jalanan kota dapat memilih Kota Lama Semarang, sekalian wisata fotografi membidik bangunan-bangunan antik di sekitarnya. Rute yang dilewati bisa dimulai dari Jalan Kepodang, Suari, Letjen Suprapto, Empu Tantular, Merak, Cendrawasih, Letjen Suprapto, Sendowo, dan kembali lagi ke Jalan Kepodang.

Walau rute tempuh hanya sekitar 1,7 kilometer, jarak yang dilalui menarik karena tujuan gowes santai ini untuk menikmati bangunan bersejarahnya. Trek yang dilalui berupa kombinasi jalanan beraspal dan conblock yang banyak ditemui di jalanan Semarang.

Merupakan jalur padat lalu lintas, sebaiknya pilih waktu terbaik untuk sepedaan di kawasan ini. Disarankan gowes pagi hari, sebelum masyarakat lokal beraktivitas atau menjelang sore, saat matahari sudah turun perlahan.

Beberapa bangunan ikonik yang dapat dibidik kamera selagi sepedaan di Kota Lama Semarang adalah sebagai berikut.

  • Gereja Blenduk

Memiliki nama asli Nederlandsch Indische Kerk, gereja bersegi delapan ini sudah berusia lebih dari dua setengah abad dan hingga kini masih digunakan sebagai tempat ibadah. Sebagai salah satu gereja Kristen tertua di Indonesia, Gereja Blenduk mengambil gaya Neo-Gotik dan ikonik dengan kubahnya.

  • Taman Srigunting

Berada tepat di sebelah Gereja Blenduk, Taman Srigunting yang teduh dulunya digunakan Belanda sebagai lapangan parade militer. Pasukan tentara Belanda kerap berlatih baris-berbaris, upacara, dan latihan militer di sini.

  • Semarang Contemporary Art Gallery

Bersepeda sedikit melewati Taman Srigunting, ada Semarang Contemporary Art Gallery, yang tetap beroperasi di tengah pandemi dengan jam buka pukul 10:00 hingga 16:30 (Selasa-Minggu) dan tiket masuk Rp10.000 per orang. Merupakan galeri seni yang berdiri di bangunan tua yang pernah diruntuhkan dan dibangun kembali pada 1918, bangunan ini dulunya merupakan kantor asuransi De Indische Lloyd pada 1937.

  • Pabrik Rokok Praoe Lajar

Gedung dua lantai yang didirikan pada 1900-an ini merupakan bekas anak perusahaan Maintz & Co milik Belanda, yang menyediakan jaringan listrik. Kemudian gedung tersebut beralih fungsi menjadi pabrik rokok Praoe Lajar dan terkenal di kalangan masyarakat pesisir sekitar Pemalang, Tegal, dan Pekalongan.

  • Stoomvaart Maatschappij Netherland

Stoomvaart Maatschappij Netherland merupakan bangunan perusahaan pelayaran Belanda yang berlokasi di samping gedung Bank Mandiri, yang juga dibangun di bekas gedung Societeit de Harmonie. Berada di pertigaan, kini gedung ini dimiliki oleh PT Djakarta Lloyd.

  • Spiegel Bar & Bistro

Akhiri perjalanan dengan bersantai di Spiegel Bar & Bistro sambil menyesap mocktail dan cocktail terbaik. Dulunya, gedung berusia lebih dari seabad ini ditempati perusahaan Winkel Maatschappij H Spiegel, toko yang menyediakan barang-barang keperluan rumah tangga dan kantor, sebelum kemudian disulap menjadi tempat nongkrong modern yang strategis di Kota Lama Semarang.

Teks: Priscilla Picauly | Editor: Melinda Yuliani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here