Jarang Diketahui, Ini Dongeng Menarik Tentang Gunung Kachi-kachi di Kawaguchiko

0
600

Ada jargon yang menyebutkan kalau tak lengkap rasanya ke Jepang tanpa melihat Gunung Fuji. Karena itulah, saat Get Lost berkesempatan mengunjungi Tokyo di musim dingin pertengahan Januari lalu, kami tak melewatkan ajakan untuk menikmati keindahan gunung yang dianggap sakral oleh penduduknya tersebut dari Gunung Tenjo, atau yang dikenal juga sebagai Gunung Kachi-kachi.

Akses ke Kachi-kachi

Untuk mencapai gunung ini, Anda dapat naik kereta JR Chuo Line dari Shinjuku Station menuju Otsuki Station (60 menit, 2.350 yen satu arah dengan kereta tokyyu atau limited express – atau 100 menit, 1.340 yen dengan kereta lokal). Setibanya, naik Fuji Kyuko Line ke Kawaguchiko Station (55 menit, 1.170 yen satu arah). Anda tak perlu membayar perjalanan kereta ini bila menggunakan JR Tokyo Wide Pass.

Setibanya di Kawaguchiko Station, naik Fuji Kyuko Bus Red Line (Kawaguchiko Line) dan turun di terminal bus Yuransen & Ropeway (15 menit, 160 yen) yang terletak persis di depan Mt. Fuji Panoramic Ropeway, stasiun kereta gantung tempat pengunjung dapat menggunakan cable car untuk mencapai puncak Gunung Tenjo.

Mt. Fuji Panoramic Ropeway

Kisah Petani dan Tanuki

Begitu menjejakkan kaki di stasiun kereta gantung, kami menemukan banyak patung maupun gambar tanuki (anjing rakun Jepang) yang sedang ditindas oleh seekor kelinci. Kami pun bertanya-tanya, adakah kisah menarik di baliknya, dan karena penasaran, meminta Atsushi, pemandu yang saat itu menemani kami, untuk menceritakannya.

“Menurut dongeng, tanuki tersebut memang sangat nakal, dan ketika seorang petani berhasil menangkapnya, ia mengikatkan tanuki tersebut pada pohon dan berniat untuk memakannya nanti. Sang petani tersebut kemudian ke kota, meninggalkan tanuki tersebut bersama istrinya yang tengah membuat mochi,” cerita Atsushi.

Tanuki tersebut terus menangis dan memohon istri petani untuk membebaskannya. Sebagai gantinya, ia akan membantu istri petani untuk membuat mochi.

Sang istri pun setuju, lalu membebaskan tanuki. Namun, setelah tanuki bebas, ia langsung membunuh istri petani, kemudian menggunakan dagingnya untuk membuat sup. Sang tanuki sendiri menggunakan kemampuannya berubah bentuk untuk menyamar menjadi istrinya, lalu menanti sang petani pulang.

Saat petani pulang, tanuki menyajikan sup tersebut, dan setelah selesai makan, ia mengubah dirinya menjadi bentuk aslinya sebelum kabur, meninggalkan petani tersebut dalam keadaan syok dan sangat terpukul.

Si Kelinci

“Lantas, bagaimana sampai akhirnya si tanuki ini ditindas kelinci?” tanya kami.

“Pasangan petani ini rupanya berteman dekat dengan kelinci, dan kelinci tersebut berjanji untuk membalas kematian istrinya. Ia berpura-pura berteman dengan tanuki, lalu menyiksanya dengan berbagai cara, dari menjatuhkan serangan lebah di atasnya hingga mengobati sengatan dengan salep pedas yang justru membakar kulit,” ujar Atsushi.

Suatu hari, saat tanuki membawa muatan ranting yang sangat banyak di punggungnya untuk membuat api unggun, ia tidak menyadari kalau si kelinci tengah membakar ranting tersebut. Ia kemudian mendengar suara berderak dan bertanya kepada kelinci suara apakah itu. “Itu suara dari Gunung Kachi-kachi,” jawab kelinci tersebut. “Kita tak jauh dari gunung tersebut, sehingga tak heran kalau kamu bisa mendengarnya!” Belakangan, api tersebut mencapai punggung tanuki dan membakar kulitnya, namun tidak membunuhnya.

Perahu Lumpur

Tanuki kemudian menantang kelinci untuk membuktikan siapa makhluk yang lebih baik. Mereka masing-masing membangun perahu dan berpacu melintasi danau. Kelinci mengukir kapalnya dari batang pohon yang tumbang, tetapi tanuki yang bodoh membuat perahu dari lumpur.

Saat adu cepat, perahu lumpur tanuki mulai tenggelam saat sudah di tengah danau. Kelinci pun membalaskan kematian istri petani dengan menenggelamkan perahu tersebut. Di versi cerita yang lain, kelinci memukul tanuki dengan dayungnya untuk memastikan dia tenggelam.

Dongeng ini memiliki latar tempat di Gunung Tenjo, sehingga gunung tersebut juga dikenal sebagai Kachi-kachi. Sementara Danau Kawaguchi yang terletak di kaki gunung ini konon merupakan lokasi tanuki tersebut tenggelam.

Panorama Gunung Fuji

Segera setelah membayar tiket (satu arah 500 yen, dua arah 900 yen), kami langsung mengantre untuk naik kereta gantung menuju dek observasi di ketinggian 1.075 meter. Perjalanannya tak lama, yakni sekitar lima menit, dan di dalam kereta gantung tersebut, pengunjung dapat menikmati keindahan panorama kota, danau, dan pegunungan di sekitarnya.

Setibanya di puncak, Anda dapat langsung menuju dek observasi dengan panorama Gunung Fuji tanpa terhalang apa pun. Saat itu musim dingin, dan menurut pemandu, kami sangat beruntung dapat menikmati puncak gunung tersebut tanpa tertutup awan dan kabut.

Pemandangan Gunung Fuji dari puncak Gunung Tenjo

Selain mengambil foto dengan latar Gunung Fuji, pengunjung biasanya menuju spot foto Heaven Bells yang berupa frame besi berbentuk hati dengan lonceng di tengahnya. Agar hasil fotonya bagus, pemotretnya dapat memastikan agar Gunung Fuji dapat masuk ke dalam frame besi tersebut, sementara yang dipotret dapat berpose seakan-akan sedang membunyikan lonceng. Opsi lainnya adalah berfoto dekat patung tanuki dan kelinci.

Bila ingin berlama-lama di sini, Anda dapat menuju Tanuki Tea Shop yang menjual makanan dan minuman ringan, seperti dango (400 yen), matcha float (500 yen), dan es krim (400 yen). Pengunjung juga dapat membeli berbagai suvenir yang berhubungan dengan Gunung Fuji dan Kachi-kachi.

Tanuki Dango

Setelah puas, kembalilah ke kaki Gunung Tenjo dengan naik cable car, atau bila kaki masih kuat berjalan, dapat memilih untuk menuruni gunung dengan berjalan kaki. Berdurasi sekitar 40 menit, opsi yang terakhir ini bisa dipilih bila tertarik mencari spot-spot foto yang menarik untuk mengambil gambar Gunung Fuji.

Teks: Melinda Yuliani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here