Dari Negara Mana Sajakah Turis Terburuk di Dunia?

0
70

Ada suatu masa ketika apa yang terjadi selama perjalanan wisata, tetap tersembunyi dan tak tersebar ke khalayak. Namun hal ini berubah seiring perkembangan teknologi, yang memungkinkan para pelancong (dan tuan rumah) untuk mengambil gambar dan mengunggah video perilaku para turis yang mengejutkan di media sosial.

Menurut salah satu survei dari Hotels.com, orang Argentina adalah yang paling sering mencuri barang-barang selain peralatan mandi dari kamar tempat mereka menginap. Singapura menempati urutan berikutnya setelah Argentina, namun mereka tidak membawa pulang benda-benda besar seperti karya seni atau sprei mewah, namun mengambil barang-barang seperti sandal, alat tulis, dan buku atau majalah.

Namun wisatawan dari negara mana yang paling menakutkan bagi warga setempat dan membuat sesama warga merasa ngeri dengan kelakuan mereka? Dilansir dari South China Morning Post, inilah daftar warga negara yang dianggap sebagai wisatawan terburuk di dunia.

  • Cina

Para pejalan tentu tak asing dengan perilaku turis Cina yang sering membuat masalah di meja check-in, menyerang awak kabin, melakukan vandalisme di situs-situs arkeologi, atau bahkan buang air sembarangan di tempat-tempat umum. Dan siapa yang tak ingat kasus penumpang China Southern Airlines pada Juni 2017 lalu yang melempar koin ke dalam mesin pesawat untuk keberuntungan?

Namun, perlu diingat bahwa dari 150 juta orang Cina yang melakukan perjalanan ke luar negeri pada 2018, tak semuanya melakukan kesalahan. Ironisnya, grup wisata dari Cina juga lah yang mungkin akhirnya menjadi penyelamat industri liburan di beberapa belahan dunia. Mereka telah membantu menopang pariwisata di negara-negara seperti Mesir, Turki, dan Tunisia yang mengalami penurunan setelah serangan teroris.

  • Amerika

Jauh lebih berhasil dalam menjamu turis ketimbang menjadi turis, turis Amerika merasa bahwa setiap orang harus melakukan sesuatu dengan cara mereka, dan bila orang tersebut tidak mampu melakukannya, mereka akan memberikan sejumlah uang hingga orang tersebut mau melakukannya.

Untungnya, turis Amerika yang merasa tahu segalanya, mengobrol dengan suara keras, dan tidak menghargai budaya setempat tersebut sudah mulai berkurang. Namun demikian masih ada tipe-tipe turis yang merasa tidak apa-apa untuk menjelek-jelekkan orang asing, mendorong orang yang menghalangi jalan mereka, dan membandingkan segalanya dengan hal yang ada di negara mereka, mulai dari harga hingga makanan.

  • Inggris

Wisatawan Inggris terkenal sopan, ramah, dan perhatian. Tetapi berikan mereka beberapa minuman beralkohol dan mereka akan berlari telanjang di jalanan dalam waktu singkat. Beberapa di antara mereka bahkan melompat dari balkon ke kolam renang dalam keadaan mabuk, sementara yang lain berkelahi dengan bayangan mereka sendiri.

Walikota Pulau Hvar di Kroasia bahkan telah memberlakukan denda sebesar 700 euro bagi turis yang tertangkap minum alkohol di depan umum. Sementara di Portugal, polisi pernah terpaksa melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan kerusuhan yang terjadi karena ulah para clubber asal Inggris.

Selain mabuk, ada pula turis Inggris yang melakukan penipuan dengan berpura-pura keracunan makanan saat sedang berlibur di Spanyol dan negara-negara lain di Eropa, lalu meminta kompensasi kepada hotel atas kerugian tersebut. Ada salah satu kasus di mana dua pejalan asal Inggris menuntut kompensasi mereka setelah menderita kram perut dan diare parah saat menginap di Gloria Palace Royal Hotel & Spa, Gran Canaria, dan mesti istirahat di kamar hotel, padahal nyatanya mereka memesan 109 minuman beralkohol selama sembilan hari menginap, mulai dari koktail hingga bir dan wiski.

  • Jerman

Bagi turis Jerman, aturan adalah aturan, dan bila menu makanannya monoton atau kamar tidurnya tidak memiliki teras seperti yang tertera di brosur, mereka akan meminta kompensasi.

Mereka memperlakukan liburan mereka dengan sangat serius, dan sulit untuk mengetahui apakah mereka benar-benar bersenang-senang. Bila di rencana perjalanan tertulis bahwa transportasi dari bandara sudah termasuk handuk dingin, soft drink, dan makanan ringan, mereka akan menuntut semuanya saat dalam perjalanan, bahkan bila itu berarti mereka harus melewatkan pemandangan indah yang ada di luar jendela.

  • Israel

Pelancong Israel terkenal karena sikapnya yang kasar, tidak sabaran, dan berisik. Akibat kebiasaan yang mereka yang senang mendebat harga kamar dan menipu pelaku bisnis perhotelan, kini beberapa perusahaan memiliki kebijakan anti-Israel yang tidak resmi.

Perilaku semacam itu tidak banyak memperbaiki citra internasional bangsa itu atau membuat hidup lebih mudah bagi orang Israel lainnya, seperti yang diungkapkan oleh seorang kontributor dalam forum wisata Lonely Planet. “Salah satu hal terburuk yang saya alami saat bepergian adalah ketika check-in di sebuah hotel dan menunjukkan paspor, lalu merasakan perlakuan ramah dari staf hotel yang seketika menguap.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here