Sawahlunto, Si Kota Tambang

0
450

Kota tambang adalah identitas yang melekat dari Sawahlunto, kota yang pernah dikuasai kolonial Belanda yang mengincar tambang batu bara saat itu. Sisa-sisa kolonial masih nampak nyata di kota kecil yang berjarak 90 kilometer dari Padang, belum lagi didukung akulturasi di kalangan masyarakat yang sebagian merupakan warga keturunan Jawa yang merupakan generasi berikutnya dari Orang Rantai, pekerja tambang paksa yang dibawa Belanda dari tanah Jawa. Hal inilah yang menjadikan Sawahlunto berbeda dari kota-kota lainnya di Sumatera Barat dan sayangnya sering dilewatkan para wisatawan. Sawahlunto menjadi penutup manis rangkaian perjalanan mengelilingi kota-kota di Sumatera Barat, yang dimulai dari Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh.

Yang Menarik di Sawahlunto

Atraksi sarat sejarah menjadi pilihan utama berwisata di Sawahlunto. Kota mungil ini memudahkan wisatawan untuk eksplor kawasan Kota Tua dan sejumlah tempat-tempat wisata yang jaraknya berdekatan satu sama lain, di mana hanya perlu berjalan kaki atau jika malas bisa menyewa ojek.

INFO BOX Galeri Tambang Batu Bara & Lubang Tambang Mbah Soero

Wisatawan yang mengunjungi Sawahlunto akan disuguhi tempat-tempat wisata yang bertalian sejarah tambang batu bara, seperti INFO BOX Galeri Tambang Batu Barau & Lubang Tambang Mbah Soero yang berada di tengah kota, hanya tiga menit jalan kaki dari Taman Segitiga. Ini merupakan museum yang cukup menarik untuk ukuran kota kecil, apalagi museum ini tidak dikenakan biaya masuk. INFO BOX Galeri Tambang Batu Bara terdiri dari dua lantai yang isinya dominan dengan koleksi potret hitam-putih kota Sawahlunto. Dekat pintu masuk, ada sebuah kotak kaca berisi rantai-rantai besi yang dulunya diikat pada kaki dan tangan Orang Rantai, makanya mereka disebut Orang Rantai. Hanya sejengkal dari museum, terdapat Lubang Tambang Mbah Soero yang boleh dimasuki dengan ditemani pemandu, serta wajib mengenakan sepatu dan helm proyek.

Ini adalah lubang tambang yang dibuka sekitar 1898 yang namanya berasal dari seorang mandor yang bernama Soero, ia adalah pekerja yang tegas, taat beragam, dan disegani anak buahnya. Lubang tambang yang dimasuki berada di level pertama, di mana lorong sepanjang 185 meter yang sudah dipermanis paving block, dengan penerangan yang cukup, pengunjung aman dan nyaman untuk menyusuri lubang yang sudah diberi tiang penyangga untuk penguat atap dan dilengkapi alat sirkulasi udara. Tiket masuk Lubang Tambang Mbah Soero sebesar Rp 8.000, belum termasuk tip pemandu, dengan waktu operasional Senin-Minggu mulai pukul 09:00-17:30.

Museum Goedang Ransoem

Disebut-sebut sebagai dapur tercanggih abad ke-20, Goedang Ransoem tercatat mengolah 65 pikul beras atau setara dengan 3.900 kilogram beras setiap harinya, termasuk menggunakan peralatan masak yang cukup canggih pada zamannya. Goedang Ransoem berdiri di sebuah kompleks bangunan bekas dapur umum para pekerja tambang dan pekerja di RSU Sawahlunto. Dengan jumlah ribuan orang yang mesti diakomodir setiap harinya (sehari tiga kali), peralatan memasak yang digunakan berukuran besar, yang terbuat dari campuran besi dan nikel, dan menggunakan batu bara sebagai bahan bakar. Di bagian Kitchen Gallery, pengunjung museum bisa melihat kompresor untuk uap panas yang dihasilkan dari tungku pembakaran, panci-panci berukuran besar, serta jajaran foto hitam-putih yang dipajang di dinding. Di bagian luar ruangan, terdapat tungku pembakaran batu bara (power stroom) yang berwujud kotak berwarna merah, yang terlihat masih bagus karena sudah mengalami revitalisasi. Tiket masuk museum sebesar Rp 5.000, dengan waktu beroperasi Selasa-Jumat mulai pukul 07:30-16:30, serta Sabtu dan Minggu mulai pukul 09:00-16:00.

Museum Kereta Api

Pemerintah Kota Sawahlunto bekerjasama dengan PT. Kereta Api menjadikan Stasiun Kereta Api Sawahlunto sebagai Museum Kereta Api kedua di Indonesia setelah Ambarawa sejak 2005. Memiliki koleksi  rangkaian gerbong kereta dari berbagai zaman dan miniatur lokomotif uap, museum yang bertempat di bekas bangunan stasiun di Kampung Teleng, Kelurahan Pasar, yang berdiri sejak 1918 ini tetap mempertahankan bentuk aslinya. Dari stasiun inilah dulu kereta dengan lokomotif uap, Mak Itam yang ikonik, mengangkut hasil dan pekerja tambang dari Sawahlunto hingga Pelabuhan Emmahaven (sekaran Teluk Bayur). Dengan tiket seharga Rp 5.000, waktu operasionalnya Selasa hingga Minggu pukul 08:00-17:00. Dulu pengunjung masih bisa naik Mak Itam, kereta api uap bertenaga batu bara peninggalan zaman kolonial, namun sudah rusak dan tak mungkin mengangkut penumpang, kereta ini hanya dipajang di museum.

Kota Tua Sawahlunto

Area pusat Kota Tua Sawahlunto berada sekitaran Taman Segitiga yang menjadi alun-alun kota. Saat malam, warga kota kerap bersantai di taman cantik dengan kerlap-kerlip lamput taman sambil memanfaatkan fasilitas Wi-Fi gratis yang disediakan Pemerintah Kota Sawahlunto. Di area ini pula terdapat beberapa bangunan bersejarah yang bisa disusuri dengan berjalan kaki, seperti  Gedung Kantor Pusat UPO yang dulu disebut Ombilin Meinen, dibangun sekitar 1916 oleh pemborong asal Tiongkok yang menjadi salah satu ikon kota Sawahlunto. Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto yang zaman dulu menjadi arena bagi penjabat kolonial untuk bersantai seusai kerja, mulai dari main bowling, menikmati penampilan musik dan berdansa. Wisma Ombilin sebelum menjadi Hotel Ombilin Heritage sempat menjadi asrama tentara Belanda era Agresi Militer, bangunan klinik, hingga menjadi penginapan seperti sekarang. Gereja Katolik Santa Barbara yang sudah berusial lebih dari 90 tahun, bersebelahan dengan Gedung Koperasi UPO yang bangunannya bergaya Indo Europeesche Stijl.

Pilihan Hotel di Sawahlunto

  • Parai City Garden Hotel (eljohn.asia)
  • Hotel Ombilin Heritage (Jl. Ahmad Yani, Tel: 0754-61184)

Pilihan Kuliner di Sawahlunto

  • Dendeng Batokok, Jl. Lintas Sumatera, Silungkang, jam buka: 09:00-21:30
  • Kedai Sup Win, Pasar Silungkang

Jelajah Sumatera Barat membawa kita mengitari empat kota penting, yaitu Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, dan Sawahlunto. Tak dapat diingkari bahwa Sumatera Barat yang rancak bana begitu memukau dan dapat menjadi opsi destinasi selain daerah wisata lain di Indonesia yang sudah populer sebelumnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here