Berakhir Pekan di Solo

0
1006

Banyak musisi menjadikan Solo sebagai sumber inspirasi, mulai Gesang dengan Bengawan Solo-nya hingga Didi Kempot dengan beberapa lagu cintanya yang meledak di pasaran. Kota yang kerap menelurkan seniman ini semakin bersolek dengan berbagai festival budaya yang bahkan telah menjadi agenda pariwisata nasional. Di sela-sela menikmati kotanya yang berjalan lambat dan masyarakatnya yang ramah, aneka kuliner unik pun menunggu untuk dicicipi. Bila berniat menikmati liburan akhir pekan di Solo, jangan lewatkan melakukan beberapa hal berikut ini.

Belajar Membatik di Kauman

Kampung batik yang berlokasi di dekat kompleks keraton ini penghuninya merupakan para abdi dalem. Para pengrajin batik di Kauman mewarisi ilmu membatik dari Ndalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dengan keahlian tersebut, masyarakat Kauman menghasilkan motif-motif batik yang dikenakan keluarga Keraton. Kauman sendiri dikelilingi bangunan kuno yang bentuknya masih dipertahankan, sehingga berjalan-jalan di sini, siapa pun dengan mudahnya melupakan waktu. Jangan lewatkan juga mengunjungi Batik Gunawan Setiawan bila tertarik belajar membatik.

Memborong Batik di Pasar Klewer

Pusat grosir batik terbesar di Solo ini namanya didapat dari pedagang batik yang dulu menjajakan batik dengan keranjang yang dipanggul sehingga dagangan batiknya menjuntai (kleweran dalam bahasa Jawa). Pasar ini sudah ada sejak zaman Belanda. Batik cap seharga belasan ribu hingga batik tulis serharga jutaan rupiah ada di sini. Jangan lupa untuk mempraktikkan ilmu tawar-menawar untuk mendapatkan harga miring.

Batik Yogyakarta dan Solo berasal dari sumber yang sama, yaitu Keraton Mataram, namun kemudian keduanya mengalami perkembangan yang berbeda. Model batik Yogyakarta berlatar putih (disebut Bledak) dengan mempertahankan motif gaya Keraton yang baku, seperti parang, kawung, dan sebagainya, sedangkan batik khas Solo (disebut Sogan) cenderung berlatar hitam atau gelap dengan dominasi warna kecoklatan.

Mengagumi Batik

Belanja batik dengan nyaman sekaligus menambah wawasan tentang batik dapat dilakukan di Batik Danar Hadi, Jalan Slamet Riyadi 261. Menyimpan sekitar 10.000 kain batik dari seluruh Nusantara, di antara koleksinya terdapat 1.500 kain dari abad ke-19. Danar Hadi sendiri bermula dari industri batik rumahan milik pasangan suami istri Santosa Doellah dan Danarsih Hadipriyono, yang merupakan anak dari Haji Bakri yang turut berperan dalam pembentukan Syarikat Dagang Islam tahun 1912 di Laweyan.

Mengunjungi Keraton

Baru memasuki gerbangnya saja, pengaruh Eropa sudah terasa di sekitar kompleks keraton yang didominasi warna biru-putih ini. Untuk menjelajah bagian dalamnya, pengunjung harus berpakaian sopan, selain harus membuka alas kaki untuk memasuki kawasan berpasir. Konon pasir di sini berasal dari Pantai Selatan dan bila bertelanjang kaki di atasnya dipercaya baik bagi kesehatan. Menurut kepercayaan Jawa, angka tujuh merupakan angka yang sempurna, sehingga bangunan ini pun memiliki tujuh pelataran dan tujuh gerbang.

Salah satu atraksi menarik di Alun-alun Selatan setiap sore adalah masyarakat setempat yang memberi makan kangkung kerbau-kerbau bule milik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dinamai Kyai Slamet. Kyai Slamet generasi pertama bertugas menjaga pusaka milik keraton yang bernama Kyai Slamet, sehingga akhirnya kerbau bule itu pun diberi nama yang sama. Konon kerbau bule ini telah disebut-sebut dalam Babad Solo sejak zaman Paku Buwono II dan masih dianggap sakti oleh sebagian masyarakat Solo. Makanya setiap malam Satu Suro atau malam tahun baru dalam kalender Jawa, kerbau-kerbau Kyai Slamet diarak keliling kota untuk dielu-elukan. Beberapa orang bahkan mengambil kotoran kerbau-kerbau yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Belanja Sambil Belajar Arsitektur

Berseberangan dengan Balai Kota, Pasar Gede yang dibangun arsitek Belanda Thomas Karsten pada tahun 1930 ini memadukan arsitektur Belanda dan Jawa. Dilindungi sebagai bangunan bersejarah, langit-langitnya yang tinggi membuat sirkulasi udara lancar dan suhu di dalam ruangan tetap sejuk walau tanpa pendingin. Sempat hancur ketika Agresi Militer Belanda di tahun 1947 dan kemudian direnovasi pada tahun 1949, pasar ini adalah tempat warga setempat berbelanja dan turis berburu oleh-oleh.

Keliling Laweyan

Selain Kauman, Laweyan juga terkenal sebagai kampung yang dihuni para juragan batik. Sejak abad ke-19, Laweyan dikenal sebagai kampung batik dan mencapai kejayaannya pada tahun 70-an. Di sinilah tempat berdirinya Syarikat Dagang Islam, asosiasi dagang pertama yang didirikan oleh para produsen dan pedagang batik pada 1912. Mirip dengan Kauman, Kampung Laweyan juga memiliki bangunan tua dan gang-gang sempit dengan kios-kios yang memajang karya batik warga setempat.

Menonton Wayang di Taman Sriwedari

Banyak pertunjukan kesenian setiap akhir pekan, seperti tarian tradisional, wayang kulit, wayang orang, dan bahkan dangdut di Taman Sriwedari. Dilengkapi beberapa restoran kecil dan stan suvenir, inilah taman rekreasi yang bermisi untuk melestarikan seni budaya. Berada di pusat kota, taman ini dibangun Pakubuwono X sebagai tempat rekreasi dan peristirahatan bagi keluarga kerajaan. Inspirasinya sendiri datang dari sebuah mitos tentang taman surgawi. Jangan lewatkan menonton Wayang Orang Sriwedari setiap hari kecuali Minggu pukul 20:30 dengan tiket Rp 3.000 per orang.

Menyepi di Candi Cetho

Dalam bahasa Jawa, “cetho” berarti jelas atau jernih. Berada pada ketinggian 1.400 meter di lereng Gunung Lawu, akses menuju Candi Cetho melalui jalan aspal sempit yang curam dan berkelok-kelok. Disarankan untuk menyewa mobil dari Solo agar memudahkan perjalanan. Candi Cetho pertama kali ditemukan sebagai reruntuhan dengan 14 teras berundak yang tersusun dari barat ke timur dengan pola susunan makin ke belakang dan makin tinggi sebagai bagian paling suci. Dari 14 teras tersebut, kini hanya tersisa 13 teras, dengan sembilan di antaranya telah dipugar.

Bertualang di Tawangmangu

Terdapat dua pintu masuk yang dapat dipilih sesuai dengan kondisi fisik, yaitu Gerbang Satu atau gerbang utama dengan rute yang lebih panjang dan Gerbang Dua yang rutenya lebih pendek. Namun baik masuk melalui pintu satu atau dua, kedua rute memiliki banyak gubuk dan bangku untuk beristirahat. Di sekitar air terjun banyak penjual sate kelinci dan ayam, yang sekaligus menawarkan tikar untuk duduk-duduk di bawah pohon bagi yang ingin melepas lelah. Air terjun setinggi 80 meter yang tanpa henti memuntahkan air deras itu memang hiburan bagi warga sekitar, terutama di akhir pekan.

Menguak Misteri Candi Sukuh

Siapa sangka bentuk candi yang ada di lereng Gunung Lawu ini mirip dengan Chichen Itza, situs bersejarah di Meksiko yang merupakan peninggalan Suku Indian Maya di abad ketujuh? Candi Sukuh yang sering salah kaprah dijuluki candi porno ini didedikasikan kepada kemegahan penciptaan dan kesuburan, sehingga relief lingga dan yoni tampak di sana-sini. Dalam mitologi Hindu, lingga dan yoni melambangkan Dewa Siwa dengan istrinya Parwati dan hal ini melambangkan kesuburan. Duduk-duduk sambil menikmati sisa kemegahan candi kuno ini sambil dibelai angin pegunungan yang sepoi-sepoi merupakan pengalaman yang tak terlupakan.

Keliling Kota Naik Bus Tingkat

Cara santai berkeliling Solo adalah dengan naik bus wisata Werkudara yang beroperasi setiap Sabtu dan Minggu. Double decker yang mirip bus-bus yang berseliweran di London ini melayani rute dari Manahan, Jalan Slamet Riyadi, Pasar Gede, Alun-Alun, Pasar Kliwon, dan kembali ke Manahan. Harga tiketnya Rp 20.000 per orang.

Night Shopping di Ngarsopuro

Pasar yang buka hingga tengah malam ini hanya digelar pada Sabtu malam. Lokasinya di Jalan Diponegoro dekat dengan Mangkunegaran dan masih satu poros dengan Jalan Slamet Riyadi. Berbagai suvenir unik, kerajinan tangan dan barang antik yang dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh tersedia di sini.

Berburu Harta Karun

Pasar Triwindu (sekarang bernama Pasar Windujenar) adalah salah satu pasar barang antik yang populer. Menyusuri lorong-lorong pasar dengan barang-barang antik, seperti koleksi batik, uang dan koin kuno, peralatan makan, kain batik, topeng, gramofon tua dari Eropa, wayang, sepeda kuno, hingga berbagai benda yang diklaim sebagai fosil makhluk purba dari Sangiran pun bisa ditemukan disini.

Petualangan di Dunia Mahabharata

Tak kalah dengan berbagai kota besar di Indonesia, Solo pun memiliki Pandawa Water World di Solo Baru, Sukoharjo. Tempat hiburan keluarga ini dilengkapi kolam ombak, kolam arus, berbagai water slide, serta berbagai fasilitas pendukung, seperti kedai aneka makanan dan menara pandang. Mengadaptasi kisah epik Mahabharata, tokoh-tokoh ksatria Yudhistira, Bhima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa hadir dalam bentuk patung raksasa di sini. Sambil bermain air, Anda juga bisa mengenalkan cerita wayang kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan.

Bermain Air di Air Terjun Jumog

Air terjun Jumog tak setenar Grojogan Sewu meski lokasinya sama-sama di lereng Gunung Lawu. Berada di Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, air terjun setinggi 25 meter yang dikelola warga setempat ini lebih asri tanpa keramaian. Berada sekitar 700 meter sebelah barat Candi Sukuh, medannya lebih ramah pengunjung, terutama yang membawa anak kecil.

Mandi di Parang Ijo

Air terjun Parang Ijo juga merupakan destinasi alternatif selain Grojogan Sewu. Selain hanya berjarak sekitar 35 kilometer dari Solo, air terjun di Desa Girimulyo, Kecamatan Ngargoyoso, ini juga memiliki kolam renang untuk anak-anak. Bila berencana ke Candi Cetho, air terjun ini berlokasi tak jauh dari sana.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here