Chiang Mai 4H/3M

0
526

Chiang Mai merupakan salah satu destinasi terbaik untuk melakukan perjalanan solo. Banyak panorama yang luar biasa indah bila ingin sekadar duduk-duduk dan merenung, namun banyak aktivitas menarik juga bila menginginkan pengalaman yang seru! Berikut adalah gambaran perjalanan selama di Chiang Mai.

HARI 1

Di hari pertama ini, Anda bisa saja masih lelah usai penerbangan panjang dari kota asal, sehingga sebisa mungkin tak memaksakan diri untuk mengunjungi banyak tempat sekaligus.

Setidaknya terdapat 200 kuil di Chiang Mai dan bila tidak ada waktu untuk mengunjungi semua, pastikan setidaknya mengunjungi kuil di Doi Suthep yang terletak di luar kota, ke arah barat laut dari Chiang Mai. Sepasang patung naga raksasa mengapit anak-anak tangga yang berjumlah sekitar 300 buah menuju Wat Phra That yang bersepuh emas dan dikelilingi patung-patung Buddha yang juga bersepuh emas. Walau area tangga ini dikelilingi pepohonan, namun disarankan untuk ke sini di pagi hari sebelum hari panas dan kuil semakin ramai oleh turis.

Kuil ini masih berfungsi sebagai biara biksu sejak 1383 dan bagi yang tidak ingin menaiki tangga, tersedia lift yang layanannya dapat dinikmati dengan membayar 30 baht, di mana uang ini digunakan untuk membiayai hidup para biksu. Dinding di sekitar Wat Phra That dihiasi mural dan altar-altar pemujaan yang penuh sesajen. Walau mungil, namun siapa pun dapat menghabiskan dua hingga tiga jam, karena tak hanya dari sini tersaji pemandangan lembah Chiang Mai yang indah, namun pengunjung juga dapat mengintip peruntungan.

Jangan lewatkan juga kunjungan ke Wat Chedi Luang yang merupakan salah kuil terpenting di Chiang Mai karena merupakan kuil keluarga kerajaan; serta Wat Phra Singh terletak tak jauh dari Wat Chedi Luang.

Penggemar kopi juga dapat duduk-duduk di salah satu kafe yang nyaman di Chiang Mai. Bila berniat café-hopping, pastikan untuk mampir ke See You Soon CaféCafé de Thaan Aoan, dan Miranda’s Cafe and Stay.

HARI 2

Paduan rasa masakan Thailand yang seimbang antara manis, asin, pedas, dan asam memang tampak sulit dibuat, namun sebenarnya mudah. Terlebih banyak kesamaan bumbu antara masakan Indonesia dan Thailand. Chiang Mai menyediakan banyak program kelas memasak berdurasi setengah hari, di mana di akhir pelajaran para murid dapat membawa pulang resep masakan Thailand terkenal untuk dapat dipraktikkan di rumah. Salah satu kelas memasak yang direkomendasikan adalah Thai Farm Cooking School yang menyediakan transportasi dari dan ke hotel Anda, kunjungan ke pasar atau pertanian setempat, dan kelas memasak sekitar enam hidangan Thailand yang lezat.

Selanjutnya, manjakan diri dengan berkunjung ke Women’s Correctional Institution untuk pijat Thailand yang terkenal. Panti pijat ini didirikan oleh mantan direktur penjara untuk memberikan keterampilan bagi para narapidana yang bakal berguna saat mereka kembali berintegrasi dan bersosialisasi di masyarakat.

Terakhir, bila tak bossan menyantap masakan Thailand buatan rumahan, pergilah ke Khao Soi Khun Yai (Grandma’s Khao Soi) untuk mencicipi khao soi, mi kering khas Thailand Utara yang berkuah kari pedas dengan daging ayam atau sapi, serta terhidang bersama sambal, acar kubis, bawang merah mentah, dan irisan jeruk nipis.

HARI 3

Menunggangi gajah adalah praktik wisata yang kurang bertanggung jawab karena gajah bukanlah hewan tunggangan, berhubung tulang belakangnya tidak mendukung aktivitas tersebut, selain sebelum dapat ditunggangi, gajah harus disiksa dan dibuat kelaparan terlebih dulu untuk menuruti berbagai perintah. Hal ini belum dikomunikasikan dengan baik sehingga masih banyak pejalan yang tidak teredukasi, selain hukum di Thailand belum melarang praktik ini. Gajah tetap dapat dimanfaatkan untuk pariwisata, asalkan tidak ditunggangi, seperti yang dilakukan oleh Elephant Jungle Sanctuary yang menawarkan pengalaman berinteraksi dengan gajah di habitat mereka tanpa mengeksploitasi.

Dapat ditempuh dengan berkendara selama dua jam dari Chiang Mai melewati sawah dan hutan (para tamu dijemput dari hotel masing-masing), selama di sana pengunjung didampingi pemandu berbahasa Inggris untuk berkeliling mengamati gajah-gajah yang berkeliaran dan ikut memandikan hewan menakjubkan tersebut di sungai. Pengunjung juga dapat memberi makan gajah dengan pisang dan tebu, selain puas berfoto sambil mendengarkan kisah pilu gajah-gajah yang berhasil diselamatkan dari eksploitasi manusia tersebut. Selain Elephant Jungle Sanctuary, pilihan lainnya untuk berinteraksi yang ramah lingkungan dengan gajah adalah di Elephant Nature Park.

Karena bakal melewatkan seharian bersama para gajah, sekembalinya ke pusat kota Anda dapat langsung menuju pasar malam. Chiang Mai Night Bazaar menyediakan berbagai produk dengan harga relatif murah, dari pakaian hingga kerajinan tangan, selain juga menyuguhkan berbagai makanan lokal, termasuk khao kha moo atau nasi yang disajikan dengan telur dan daging babi.

Selagi di Chiang Mai, jangan lewatkan juga Sunday Night Market. Setiap Minggu, Jalan Ratchadamnoen dan Phra Singh sejauh 1,5 kilometer (atau dari Wat Phra Singh ke Pae Gate) ditutup untuk membiarkan para pedagang membuka lapak-lapak di sepanjang jalan ini. Pasar mulai dibuka sore hari hingga lewat tengah malam, namun saat terbaik mengunjunginya adalah pukul 18:00, ketika belum terlalu banyak pengunjung. Tak hanya suvenir, kerajinan, benda seni, dan aneka pakaian, pasar ini juga memuat lapak-lapak makanan dan di beberapa sudutnya dimanfaatkan musisi maupun seniman jalanan untuk beraksi. Walau tidak terlalu besar, namun datang ke pasar ini tidak pernah membosankan. Bahkan bila tidak berniat atau tidak suka belanja pun, bukan tidak mungkin betah menghabiskan satu atau dua jam di sini. Bila lelah berjalan pun di sekitar pasar terdapat kafe, kedai kopi, dan restoran untuk beristirahat. Berbelanja di Chiang Mai dapat lebih menemukan barang-barang berkualitas dan tidak pasaran, salah satunya pakaian dari kain khas suku-suku di pedalaman Thailand Utara.

HARI 4

Menuju bandara untuk penerbangan kembali ke kota asal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here